Kamis, 01 Maret 2018

PROMOSI YANG "ABNORMAL"

Dalam perjalanan karir saya di dunia perkebunan sejak tahun 1990 boleh dikatakan bahwa untuk kenaikan jabatan saya semua berjalan "abnormal".
Kenapa?
Karena untuk naik ke pangkat atau jabatan yang lebih tinggi, saya berhenti dari suatu Perusahaan dan masuk di Perusahaan baru pada posisi yang lebih tinggi.
Misalnya setelah 5 tahun sebagai Asisten Lapangan di PT Inti Indosawit Subur, Riau, lalu ada kawan yang mengajak kerja di PT Tigamitra Perdana di Aceh Barat. Saya tertarik, karena General Manager di sana adalah Bapak Uuh Subhi Sidiek mantan Estate Manager saya tahun 1990.
Sempat 2 tahun saya sebagai Asisten Kepala di Aceh Barat itu. Lalu pada akhir 1997 ada kawan yang menawarkan posisi Estate Manager di Sumatera Barat. Wah, ini kesempatan emas untuk bekerja di kampuang halaman. Jadilah saya sebagai EM di PT Sukses Jaya Wood, sebuah perusahaan kayu milik Cina Padang yang mulai berkiprah di perkebunan kelapa sawit. Hanya tiga tahun saya di sana, karena nggak cocok dengan si-Apeng, direkturnya, saya mengundurkan diri pada tahun 2000.
Demikian sekelumit kisah perjalanan karir saya.
Lantas "loncat" ke tahun 2007. Saya masuk kerja di PT Harapan Sawit Lestari di Kalbar sebagai Senior Estate Manager. Inilah karir tertinggi saya hingga saat ini. Saya membawahi 4 orang EM dan 18 orang Asisten Lapangan di areal 12 ribuan hektar. Semua tanaman menghasilkan.

Tujuh tahun saya menjabat SEM, lalu ditugaskan di Training Center sejak awal 2015.
Keinginan saya saat ini adalah menjadi General Manager, suatu posisi tertinggi di perkebunan.
Mungkin saya harus menempuh jalan "abnormal" lagi untuk meraih posisi yang lebih tinggi.


01/03/2018

BUBARKAN PARTAI POLITIK

Sebaiknya diwacanakan sejak saat ini sebuah Negara tanpa partai politik.

Lantas kalau tidak ada parpol, bagaimana proses rekrutmen anggota DPR ?

Kita bisa rekrut anggota DPR melalui Panitia Seleksi (Pansel) yang berisikan tokoh-tokoh senior bangsa yang telah dikenal independensi mereka.

Seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Merauke diberi kesempatan yang sama untuk mengikuti seleksi.

Mereka harus ikut psikotest, test tertulis, test wawancara, focus group discussion, serta te...st kesehatan.

Tahapan akhir, mereka harus menjalani fit and proper test di hadapan para panelis yang terdiri dari para ekonom, politisi senior, psikolog, serta pejabat pemerintahan.

Agar semua daerah terwakili di DPR, maka kalkulasinya adalah berdasarkan jumlah penduduk di daerah, atau provinsi masing-masing.

Setelah didapat kandidat anggota DPR yang ditetapkan oleh Pansel, maka tahapan selanjutnya mereka harus menandatangani agreement yang antara lain berisi, bahwa mereka akan bekerja sepenuhnya untuk DPR selama 5 tahun, artinya mereka akan menjalankan fungsi sebagai anggota DPR, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran dan fungsi pengawasan, patuh dan taat kepada UUD 45 dan semua ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku di NKRI;
lalu yang penting mereka segera mengundurkan diri sementara apabila tersangkut kasus hukum.

Jelas di sini bahwa para anggota DPR ini mewakili aspirasi rakyat dari daerahnya masing-masing. Bukan mewakili partai apalagi pribadi.


Kalau hal tersebut bisa dilakukan, tentu kita tidak perlu lagi parpol. Tidak perlu lagi keluar biaya milyaran bahkan trilyunan rupiah untuk melakukan kampanye, serta melaksanakan pemilu.

Mungkin saya berkhayal. Mudah-mudahan ada yang memberikan respon positif terhadap khayalan saya ini.