Kamis, 23 Januari 2014

Merantau Ke Deli : 12. MENURUTI ADAT LEMBAGA



SUDAH terlepas daripada beban yang amat berat, demikianlah rasanya hati Leman sejak bercerai dengan Poniem. Meskipun masih kerap kali juga teringat olehnya kebagusan pergaulannya dahulu dengan perempuan yang telah diceraikannya itu, tetapi perasaan itu lekas bias dihilangkan. Karena tidak beberapa lama kemudian Mariatun telah mengandung. Padahal itulah yang sangat dicita-citakannya.

Setelah genap bulannya, anak itupun lahir, anak perempuan. Anak perempuan bagi orang Minangkabau lebih besar harganya daripada anak laki-laki. Karena kalau ada beranak perempuan, ada harapan timbul cinta si ayah akan membuat rumah untuk anaknya itu, disamping itu membuat rumah tentu akan membelikannya sawah,sehingga pergaulan diantara kedua suami istri itu bertambah tegap dan teguh.

Lantaran telah beroleh anak perempuan, bentuk ruma htangga menjadi lain. Harta benda tidak ada harganya, mencari uang sudah mesti lebih bersungguh-sungguh daripada yang dahulu. Apa lagi disamping mencarikan harta benda untuk istri, orang Minangkabau terikat pula oleh kewajiban kepada familinya sendiri, yaitu saudara-saudara di dalam sukunya. Kalau seorang hanya menumpahkan hartanya buat anak dan istrinya, dia dinamakan “Batu terbenam ke bancah” tidak memikirkan dunsanak dan kemenakan sendiri, hanya memperkaya “orang lain” saja. Orang Minangkabau mencari harta benda, adalah untuk memperkaya suku sendiri, bukan untuk orang lain.

Tampang kepercayaan induk semang yang lama ada. Sebab itu diperbuatlah hutang lebih banyak dari dahulu diramaikan kedai dengan barang-barang amanat. Sehingga kelihatannya sudah lebih maju daripada dahulu.

Padahal dahulu kebanyakan barang dibeli kontan, meskipun tidak seramai yang sekarang. Sedang sekarang lebih ramai,tetapi dari barang yang dihutang. Ada lagi satu kekurangan yang lebih besar pada masa sekarang. Sekarang sudah perlu banyak memakai anak semang, yang bernama kongsi gendong. Yaitu disuruh orang-orang lain mencacakan barang-barang ke kebun-kebun tiap-tiap gajian kecil dan gajian besar (tanggal 16 dan tanggal1). Orang yang disuruh itu dibawa berkongsi. Laba dibagi dua, seperdua kepada yang empunya barang dan yang seperdua kepada yang menjalankan. Orang yang dibawa berkongsi demikian tidak kurang dari sepuluh orang. Sayang tidaksemuanya jujur. Ada yang menjual barang berlaba Rp. 1, dikatakannya Rp. 0,80sen, laba yang didalam 80 sen itulah yang dibagi kedua kelak. Yang 20 sen masuk sakunya.

Alangkah majunya perniagaan begini. Tetapi untungnya sudah lebih tipis, karena barang-barang itu kebanyakan bukan kepunyaan sendiri, melainkan barang amanat pula. Berapa lakumesti segera disetor kepada induk semang di awal bulan, supaya diberinya pulabarang yang baru. Kalau orang-orang yang bekerja lurus, bias memegang amanat,bias jugalah maju dan terjaga baik. Tetapi anak-anak semangnya itu sebanyak yang lurus sebanyak itu pula yang bengkok. Kadang-kadang dengan tidak tahu-tahu, sehabis berjualan dia tidak pulang lagi ke kedai, dia terus sajapergi membawa jualan itu kenegeri lain, sampai ke Betawi atau ke Lampung. Akan dilaporkan kepada Polisi merasa enggan, karena dia family sendiri. Diwaktu yang demikianlah teringat jasa Suyono orang kontrak dari Jawa itu. Dahulu selagi diamasih ada, barang-barang itu dipegangnya sebagai tanggungannya sendiri,dijualnya dengan kelurusan. Karena dia insaf bahwa dari sanalah pangkal hidupnya.

Beban amat berat. Ke kampung telah dikirim surat menyuruh membelikan pekayuan buat rumah anak. Sebab itu perlu dikirim uang. Cukup untuk membeli pekayuan sampai kepada harga papan. Belum lagi harga atap seng. Kayu itu hendaklah kayu pilihan. Dan kayu perlu rumah itu diberi beralas semen, maka harga semen itu lain pula. Uang kepunyaannya waktu itu tidak cukup buat memenuhi kehendak orang di kampung. Betul banyak uang terletak di dalam kotak, tetapi tidak beberapa uang yang kepunyaan awak, sedang waktu setor tiba-tiba.

Kesudahannya terpaksalah uang yang sedianya akan disetor penuh, dipakai lebih dahulu buatkeperluan sendiri. Setoran yang sedianya Rp.500,- dijadikan dahulu Rp. 300,-dijanjikan akan disempurnakan habis bulan. Dan sehabis bulan janji itu tidakpula dapat dipenuhi melainkan kurang dari mestinya. Maka bertumpuklah hutang.Demikianlah caranya menyudahkan rumah. Sehabis mengerjakan rumah, perlu pulaistri itu dibelikan sawah. Keperluan membeli sawah itupun demikian pula, yaitudengan jalan memakai uang yang sedianya akan disetor. Setelah hampir satu tahunhutang-hutang tidak berkelunasan, maka induk semang pun menyesaklah dengan sekeras-kerasnya. Untuk memelihara jangan sampai membawa kesan yang tidak baik terpaksalah pinjam ke kiri dan ke kanan. Tertutup hutang kepada induk semangbesar, tinggal hutang kepada kawan-kawan kiri kanan yang wajib diangsur pula tiap-tiap bulan. Padahal pedagang perlu lekas-lekas dibayar uangnya supaya dapat dijalankannya pula. Sekumpulan uang tertahan d jalannya bukan sedikit membawa atau mendatangkan kerugian kepada perniagaan. Hal ini berlaku hampir pula setahun. Akhirnya dengan tidak terasa semarak kedai itu berangsurlah hilang. Tidak terdapat lagi yang kepunyaan diri sendiri dan orang pun telahagak enggan memberikan barang dengan jalan hutang. Orang yang bisa dipercaya menjalankan dengan sigap sebagai Suyono dahulu tidak ada lagi. Rumah dan sawah di kampung telah ada, semuanya bukan kepunyaan sendiri, tetapi kepunyaan istri.

Sudah hampir tiga tahun merantau. Menurut adat di kampung sudah patut pula Mariatun dibawa pulang. Apa lagi hendak melihatkan anaknya kepada kaum kerabat. Pulang beranak pun perlu belanja, perlu kain selengkapnya, perlu membeli barang emasuntuk Mariatun sendiri, jangan kalah hendaknya daripada pakaian Poniem seketika dibawa pulang dahulu. Dan anak sendiri, anak perempuan. Pakaian anak perempuanmeskipun belum cukup usianya dua tahun tentu ada pula hendaknya. Sekurang-kurangnya subang emas semacam gelang tangan, gelang kaki dan dukuh. Semuanya tentu dari emas. Kalau tidak tentu malu awak, terlebih-lebih seketikamula-mula turun dari atas oto, seketika anak itu disambut neneknya dari tanganibunya. hendaknya tangan yangmengulurkan harus merah dan diri anak itu sendiri mesti berpalut pula denganemas. Waktu turun dari atas oto itulah lagak yang dicita-citakan oleh tiap-tiap orang yang merantau ke Deli, walaupun sesudah itu tidak akan melagak lagi.

Itu pasal pakaian.

Ada lagi yang lebih penting, yaitu peti menyanyi piring plat barang 20 buah, meja kayujati yang buatan Medan…. Meskipun di kampung sendiri ada juga meja. Demikian juga cawan pinggan, barang-barang gelas agak satu peti kecil. Semuanya perlu.

Sudah sekian lamanya merantau, sudah tiga tahun. Tentu Mariatun sudah menyediakan uang pula guna pembeli kain bakal baju, kain sarung beberapa persalinan, yangakan di hadiahkan kepada kaum kerabat dekat dan jauh, terutama untuk pembalas“bungkus” orang yang ikut mengantarkan ketika akan berangkat dahulu.

Sekali pulang saja, untuk ongkos, yang perlu-perlu itu tidaklah akan kurang daripada Rp. 300,- pula[1]. Belum lagi belanja sampai kekampung. Maka sebelum pulang itu diajaknyalah orang lain berkongsi buat tiga bulan lamanya. Kongsi itulah menjalankan perniagaan selamadia dikampung. Pulang kekampung itu bukan sebentar, sekurang-kurangnya tigabulan, hampir sama dengan orang pulang bergaji Rp.400, sebulan layaknya. Dengan demikian barulah adat berdiri, baru lembaga bertuang, baru sah menjadi anak Minangkabau ! Semuanya itu telah dilakukan. Boleh dikatakan licin tandas perniagaan sendiri seketika akan pulang itu. Pendek kata sejak bercerai dengan Poniem belum ada lagi tambahan dan kemajuan yang nyata, melainkan terus menerus menyusuti yang telah ada. Meskipun telah nyata bahwa uang itu dilekatkan pada sawah dan rumah di kampung, sama artinya uang yang lekat di sana sebagai barang mati, sebab tidak dapat lagi. Berapa banyaknya orang merantau yang menghabiskan hari mudanya, sampai tuanya di rantau, di Deli, di Bengkulu dan di mana juapun. Bila telah ada uang, dikirimkan pulang, disuruh kerabat yang tinggal di kampung supaya memperbuatkan rumah atau dilekatkan kepada sawah. Maka berdirilah rumah yang indah-indah, yang bagus, tetapi tidak ada yang mendiaminya. Sebab yang mempunyai masih tetap merantau. Yang menghuni rumah demikian hanyalah orang-orang tua-tua, orang yang tetap bertani, hingga di beranda muka rumah itu dihampaikan celana kesawah dan baju untuk ke ladang Lampu-lampu mahal yang bergantungan di karut lawa-lawa. Nanti kalau sudah tua,atau sudah melarat dirantau, barulah ingin hendak tinggal di kampung, tingga di dalam rumah yang telah diperbuat tadi. Pendirian itu baik, kalau tidak akan merusak sumber pencarian di rantau sendiri, artinya yang dibelanjakan itu kelebihan dari modal. Yang celaka ialah kalau modal itu sendiri yang dibelanjakan untuk itu, sehingga uang hanya habis dijalankan, akan belanja pulang dan belanja kembali. Di kampung sendiri ada rumah bagus, tidak sanggup mendiaminya. Diri sendiri pergi merantau ke negeri orang, sampai di sana menumpang di kaki lima rumah orang. Kadang-kadang sebuah rumah kedai disewa sampai empat atau lima keluarga. Di loteng dua kamar, di bawah tiga,bersempit-sempit, sehingga hilang kebersihan. Yang setengahnya lagi apabilatelah banyak uangnya, dibelikannya sawah untuk anak istri atau untuk famili.Untuk diri sendiri tidak ada. Sebab orang laki-laki di Minangkabau tidak berhakmemiliki harta. Negeri telah selesai dikerjakan, sawah yang baru belum ada. Melainkan sawah pusaka turun temurun. Maka pindahlah sawah-sawah yang ada d itangan si miskin ke tangan si kaya, si banyak uang. Si miskin tidak sanggup lagi memindahkan uang harga sawahnya kepada sawah yang lain. Sebab itu, uang itu dibawanya berniaga. Karena modal tak besar, uang itu habis.

Maka dari setumpuk ke setumpuk pindahlah sawah dari tangan si miskin ke tangan sikaya. Terjadilah kelaparan suatu suku dan kenyang suku yang di dekat si kaya tadi. Orang-orang yang mempunyai sawah dahulu sekarang hanya menjadi tukang menerima upah menanam, upah mengirik dan upah menumbuk padi.

Tidak ada niatan hendak memperbesar modal dirantau, atau hendak membeli tanah dinegeri orang, supaya harta benda orang di kampung jangan terganggu. Melainkan kalau mereka telah beruang banyak, hilang akalnya sebelum uang itu dilagakkannya kepada orang kampungnya sendiri. Hilang akalnya sebelum dia dapat mengulurkan anak perempuannya dari oto, yang di saput oleh emas. Waktu itu silaki-laki boleh tersenyum manis sampailah cita-citanya selama ini.

Demikianlah penyakit yang telah menimpa jiwa Leman sejak dipengaruhi adat ini. Adat yangdikatakan tiada lapuk dihujan dan tidak lenkang dipanas ; Dia benci melihat iorang dari Mandahiling kemanapun mereka merantau, tanah yang dicarinya dahulu. Sehingga telah ada orang Mandahiling yang telah hidup turun temurun di tanah Deli, demikian pula orang Banjar dan orang Jawa. Kata Leman orang telah melupakan kampung halaman. Leman dan teman-temannya pandai mencari rezeki,tetapi entah kemana rezeki itu perginya setelah didapat, tidaklah tahu.

Sejak orang candu merantau ini, hidup bertolong-tolongan, berfamili secara dahulurusak binasa pula. Dahulu tidak ada sawah yang sampai diupahkan, tidak ada bertanam bersiang, menyabit dan mengirik yang diupahkan. Semuanya dikerjakan bersama-sama dalam kalangan orang sekampung. Sekarang yang akan mengerjakan telah habis lindang dari kampung. Sehingga perlu mengupahkan kepada orang yangd atang dari tempat lain. Sedang upah sawah itu kadang-kadang sama dengankehasilan yang diperdapat, bahkan kadang-kadang rugi, dan kadang tidak melepasibelanja. Kesudahan panjang rumput, semaklah ladang, liatlah sawah danlenganglah kampung. Pulang mereka agak tiga Leman dengan istrinya telah pulang.Telah dicoba mendiami rumah yang baru diperbuat itu tiga bulan lamanya. Setelahhabis masa tiga bulan Leman hendak kembali seorang dirinya. Tetapi Mariatunhendak keras mengikut. Dapat sajalah dimaklumi apa sebabnya dia keras mengikut. Dia takut kalau Leman surut kembali kepada jandanya. Maksud Leman makanya diah endak merantau seorang diri lebih dahulu, biar istrinya tinggal di kampung, supaya agak ringan beban sedikit. Karena keadaan jauh berbeda daripada dahulu. Sebab pokok modalnya sudah kecil, hanya sisa-sisanya saja yang tinggal. Tetapi Mariatun tidak mau, dia hendak sama hilang sama timbul dengan suaminya, katanya. Apalah lagi kalau seorang perempuan telah merasai bagaimana senang merantau, canggung rasanya tinggal di kampung. Apa lagi kalau tinggal seorang diri dengan anak, suami jauh di rantau orang.

Sesampaiditempat tinggalnya kembali, didapati kebetulan saja apa yang disangkanyadahulu. Sepulang dari kampung dihitung perniagaan, direken laba dan rugi. Ternyatabahwa pokok asli Leman sudah sedikit sekali, boleh dikatakan sudah habis.Artinya kalau dia masih tetap tinggal di situ, dialah yang menjadi anak semang,kongsinya itulah majikan. Karena malu akan diperintah orang yang dahulunyadiperintah, dimintanyalah berhenti dari perniagaan itu. Dan akan dicobanyaberniaga sendiri. Tentu saja, ditanah Deli usul yang demikian amat menyenangkanhati kawan. Biasanya seorang yang berkedai diusir oleh orang yang ingin melihatletak kedai itu dengan uang, “cia thee” namanya, yaitu adat yang telah biasaditiru dari orang Tionghoa. Sekarang yang menyewa toko itu sendiri yang tidaksanggup lagi, tentu kawan itu menerima dengan jari sepuluh.

Maka kelaurlah Leman dari kedai yang telah bertahun-tahun didiamnya itu. Pindah ke sebuah rumah petak kecil, disewanya berdua berkongsi dengan orang lain.Dengan sisa modalnya yang lama dan uang cia thee itu dibelinya barang untuk dijadikan dengan sepeda ke perkebunan-perkebunan, sebagaimana yang dilakukannya dahulu seketika dia mula-mula masuk ke tanah Deli.

Tidaklah kelihatan benar sedihnya, lantaran pertukaran nasibnya itu. Mariatun tidaklah sedih benar. Sebab sudah ada pergantungan harapan, yaitu rumah dan sawahs etumpak hasil perjalanan yang dahulu. Barang emas pun telah ada pula. Sekarang biar surut ke bawah dahulu. Kelak kalau berhemat tentu akan dapat pula sebagaidahulu kembali. Apalagi petuah guru telah ada ; dunia itu sebagai rodapedati, sekali turun sekali kita naik; mendapat janganlah terlalu harap, rugi janganlah terlalu cemas.

Cum asatu yang belum disadari Leman, yaitu perobahan dirinya. Dahulu semasa berkedai, sebelum pulang, kulitnya putih, tumitnya laksana berdarah dipijakkannya. Kain istrinya bertukar tiga kali sehari, anaknya manja. Sekarang, mukanya telah merah kehitaman dibakar cahaya matahari, anak bajunya telah busuk karena keringat, kain istrinya sudah jarang bertukar, dan ……, Leman tak sadar, bahwa dengan diam-diam rambut putih telah tumbuh sehelai dua helai, supuluh dan telah ada setumpak demi setumpak di atas kepalanya.


----------------

[1] Semua perhitungan ialah menurut ukuran sebelum perang.

Kamis, 02 Januari 2014

MERANTAU KE DELI, Oleh Buya HAMKA (Bagian 11 : PECAH)

SUNGGUH banyak sekali manusia yang lemah tak dapat mengendalikan dirinya untuk menahan hawa nafsu. Perturutkan dahulu. Buruk baiknya hitung dari belakang. Demikian kata hatinya setelah dia menempuh suatu perbuatan yang ditolak oleh timbangan halusnya, tetapi dikehendaki oleh nafsunya. Kelak zaman belakang waktu berhitung itu akan tiba juga. Maka cerahlah langit teranglah awan, hakikat kebenaran itupun tampaklah, sebab bila hawa nafsu telah lepas, tinggallah tanggungan bathin yang maha berat.

Demikianlah Leman, bahwasanya akan sulit jalan yang akan ditempuhnya nanti, dia sendiri telah merasa waktu itu dan orang-orang sebagai Bagindo Kayo telah memberi ingat. Tetapi dia lemah, dia jatuh di bawah kendali hawa nafsunya. Ada-ada saja dalih yang diperbuat untuk pelemahkan pendirian yang asli. Dikatakan dengan istri yang tua tidak beranak, dikatakan malu menjejak kampung halaman sebab belum ada rumah tangga di kampung sendiri. Padahal pada hakikatnya dalam kehidupan orang kampung, anak itu tidaklah sepenting kemenakan. 

Bukankah suku anak berlain dengan suku ayah dan kemenakan itulah yang lebih dekat kepada dirinya ? Sentana ada anaknya dengan Poniem, tentu tidak pula akan diakui orang Minangkabau dan itu pula yang akan jadi alasan untuk menambah istri seorang lagi.

Apabila manusia telah lemah mengambil timbangan untuk kepentingan dirinya sendiri pada kali yang pertama, kelemahan itu akan berturut-turutlah sampai kepada akhirnya. Maka sejak terjadi kekusutan rumah tangga itu, dia dengan Poniem tidak dapat lagi terus terang semacam dahulu. Pada hal musyawarah dengan terus terang itulah awal bahagianya di dalam pergaulan selama ini.

Dalam kekusutan rumah tangga yang semacam ini, yang paling buruk ialah apabila dimasukan tangan orang lain ke dalamnya, orang-orang yang tidak bertanggung jawab atas bahagia diri kita sendiri. Dan cara yang begini masih menjadi kebiasaan yang ringan dalam kalangan bangsa kita.

Rumah tangganya telah kusut. Leman telah mulai membicarakannya kepada orang lain. Dia meminta pertimbangan ke kiri dan kekanan. Orang luar lebih suka melihat kejadian yang hebat. Terutama orang yang sama-sama orang kampung yang lebih banyak memikirkan untung sendiri meskipun akan merugikan di sana dimintanya pertimbangan tentang istrinya itu. Hampir semuanya memberi nasehat, lebih baik diceraikan salah seorang.

“Yang mana yang mesti saya ceraikan ?”

Satu diantara nasehat yang didengarnya begini bunyinya: “Tetapi Leman jagan marah. Menurut fikiran kami, meskipun bagaimana baiknya pergaulan dengan Poniem, lantaran dia bukan sekampung, lebih baik dia saja tinggalkan. Betul awak kasihan kepadanya, tetapi apalah hendak dikata, setinggi-tinggi terbang bangau namun dia akan kembali ke kubang juga. Adapun Mariatun, dia sekampung sehalaman, sekota senegeri dengan engkau. Engkau akan tua, akhirnya akan pulang ke kampung juga”.

Itulah macamnya nasehat yang diberikan orang kepadanya.Bertambah lama bertambah hilang pertimbangan sendiri, menang pertimbangan oranglain. Apalagi ditumbuhi pula oleh hawa nafsu muda, yang lebih suka memakai yang baru dan membuangkan yang lama. Sejak banyaknya nasehat-nasehat yang semacam itu, dia pun bertambah renggang dari istri yang tua, dan si istri pun telah mulai pula merasa. Dahulu kerap kali dia menyambut haknya, membantah suatu perbuatan yang tidak adil. Sekarang dia mulai pendiam. Sebaliknya Mariatun, tiap-tiap suaminya pulang ke kedai, pulang berjaya, tiap-tiap akan tidur dan duduk berdua, ada-ada saja jalan baginya membusuk-busukkan Poniem, dan Poniem pun mulai merasa hidupnya terpencil. Segenap orang kampung suaminya yang berdagang di sana boleh dikatakan berpihak kepada Mariatun. Orang memandang Poniem tidak sebagai dahulu lagi, dia telah dipandang sebagai orang menumpang saja.

Perempuan adalah lautan, bila kita tidak kuat merenangi, kita akan ditelannya. Dengan berangsur-angsur Leman telah tertelan oleh Mariatun. Entah siapa yang mengajarkan, sifatnya pun tambah lama bertambah kasar kepada Poniem. Segala percakapan Poniem dahulu, memburukkan adat orang Padang, kerap kali diulangnya dekat suaminya, atau dekat yang lain-lain.

Kawan Poniem yang setia hanyalah Suyono. Jika Mariatun ke muka menemui suaminya berjualan, bergelak-gelak bergurau senda, Poniem telah duduk seorang dirinya di dapur. Orang lain bercakap-cakap dengan bahasa Minangkabau dengan tertawa-tawa, maka dia apabila Suyono datang, bercakap-cakap pulalah dengan bahasa Jawa. Kalau ada kuli kontrak yang akan membeli, dipanggillah Suyono oleh Mariatun : “Eh, Suyono layanilah ini, inilah bangsamu”.

Ajaib, lekas benar angin beralih.

Maka terjadilah yang sangat tidak diingini itu. Ibarat suatu bisul yang telah lama sakit, sekarang akan meletuslah. Sebuah peti dibuka. Yaitu peti batik yang baru saja dipesan dari Pekalongan. Baru saja peti itu terbuka, datanglah Mariatun mendekati. Hatinya tertarik benar melihat sehelai kain batik yang halus itu. Belum lagi dihitung dan dilihat faktur barang itu, kain tersebut telah dihelakannya : “Ini buat saya”. Katanya dengan senyum, lalu hendak dilarikannya ke loteng.

“Jangan, tunggu dahulu, fakturnya belum diperiksa”.Kata Leman.

“Cuma sehelai ini”. Kata Mariatun pula lalu berjalan dengan senyumnya hendak menghantarkan kain itu ke atas, ke dalam lemarinya. Hendak dikumpulkannya dengan kain-kain yang telah beberapa helai diberikan suaminya kepadanya. Tetapi di dekat pintu Poniem telah lama berdiri. Dia melihat saja perangai madunya itu dengan benci. Rasa sayang kepada suami, rasa cinta selama ini pun telah kendor lantaran marah. Dia meminta supaya haknya jangan diperbedakan. Melihat Mariatun tidak mau tercegah mengambil kain itu, Poniem pun menerobos pula ke muka, diambilnya pula sehelai yang paling halus : “Buat saya sehelai”. Katanya pula.

Kalau Poniem masih sendiri, tahu dan insaf dia apa artinya perbuatan itu. Kain itu belum boleh diambil. Mesikpun telah dilihat fakturnya, pun juga tidak boleh, karena kain itu adalah kain jualan. Kalau telah main ambil keambil saja, alamat peraturan perniagaan tidak akan berjalan lagi dan itulah tampang kecelakaan. Dahulu Poniem sekali-sekali tidak suka berbuat demikian, budinya jauh lebih mulia dari itu. Gelang di tangannya akan dibukanya supaya perniagaan itu jangan terganggu, bahkan bertambah subur dan maju. Tetapi sekarang telah lain. Sekarang adalah perbuatan pengaruh diantara dua orang perempuan terhadap seorang laki-laki. Apabila cinta itu dituluskan kepada seorang, maka laki-laki itu akan menerima cinta yang penuh pula dari seorang perempuan. Mau perempuan itu mengorbankan dirinya sendiri untuk segenap keperluan suaminya. Tetapi apabila si laki-laki telah membagi cinta itu kepada dua orang perempuan, keduanya akan merebut merampas supaya suami itu lebih berat kepada dirinya sendiri. Ketika itu laki-laki yang dimintanya berkorban untuk dirinya, bukan dia lagi yang mau berkorban untuk laki-laki. Waktu itu bukan suaminya lagi yang dicintainya, tetapi dirinya sendiri. Poniem telah tahu perbuatan Mariatun itu salah. Tetapi lantaran tidak mau kalah, lantaran hendak meminta persamaan hak, dia tidak peduli kesalahan kawannya melainkan dia ikut pula membuat kesalahan sebuah lagi. Sehingga laki-laki itu memikul kerugian dua kali.

“Letakkan itu kembali !” Ujar Leman dengan marahnya.

“Suruhlah Mariatun meletakkan dahulu, baru barang ini akan saya letakkan pula”. Kata Poniem.

“Letakkan kain itu kemari Mariatun !” Kata Leman pula.

“Cuma kain sehelai”. Katanya, lalu dia terus juga naik.

Leman bertambah marah. Dia tegak lalu dirampasnya kain itu dari tangan Poniem. Poniem rupanya tidak pula menimbang lagi apa yang akan yang terjadi. Dia berlari naik ke atas loteng dirampasnya pula kain yang sehelai lagi dari tangan Mariatun. Mariatun menahan, dia menarik, sehingga terjadilah pergumulan yang hebat, kedengaran oleh Leman yang sedang di bawah. Sebagai kilat cepatnya Leman naik ke atas. Didapatinya kain itu telah lusuh diperebutkan, separo di tangan Mariatun dan separo lagi di tangan Poniem.

“Rupanya kau hendak berlantas angan benar di sini,sudah lama saya menahan hati melihat perbuatan dan kelakuanmu” Kata Poniem. Sedang dia duduk di atas perut Mariatun, tangannya yang sebelah menarik rambut Mariatun dan yang sebelah lagi memukul dadanya. Sangat kalapnya kelihatan, sehingga Mariatun tidak dapat bergerak lagi, meskipun ujung kain itu belum juga lepas dari tangannya. Sedang terjadi perkelahian yang hebat itulah Leman datang. Dengan sekali renggut saja direnggutkannya rambut Poniem, sehingga terhindar dari tubuh istri mudanya, lalu diiringinya pula dengan sepak sekali, sehingga terguling ke pinggir : “Kurang ajar ! Jawa buruk, kau hendak membunuh orang di sini”.

“Aduuh, aduh…….. sakitnya, aduh !..... tolong saya,tolong ! hancur rasanya seluruh badan saya dikirik diremas oleh Jawa hina ini.Ya Allah ! Mati badanku di kiriknya”. Kata Mariatun sambil melengking-lengking memekik-mekik serupa orang sangat kesakitan.

Poniem bangun dirasanya pinggang yang sakit kena sepakitu. Dilihatnya mata suaminya tenang-tenang. Lama baru mulutnya bisa berkata :“Ganjil ! Begitu caranya Abang memisahkan istri berkelahi, ya ? Lebih baik Abang ambil saja pisau Abang sembelih leher saya, habis perkara ! Sehingga tidak terganggu lagi pergaulan Abang dengan istri Abang yang cantik molek ini”.

“Kau jangan banyak cakap di sini. Kau memang kurang ajar”.

“Aduh sakitnya…… Ya Allah Ya Rabbi, remuk hancur badanku dipiriknya, patah-patah rasanya tulangku diremas……. Aduh”. Bunyi pekik Mariatun kembali.

“Pembohong, belum sampai badannya ku pengapakan, belum sekeras sepak yang dijatuhkan ke atas pinggangku’. Kata Poniem.

“Diam !”

Suara ribut itu telah kedengaran ke sebelah menyebelah.Dengan langkah perlahan Suyono naik ke atas. Disaksikannya rambut kedua perempuan itu telah kusut, bajunya robek-robek dan kain yang diperebutkan itu telah hancur. Melihat Suyono naik, maka dua orang perempuan berdekatan rumah,sekampung dengan Leman, naik pula. Mereka terus datang membujuk Mariatun dan membimbing tangannya, mata mereka berapi-api melihat Poniem.

Mariatun bertambah menangis. Karena dilihatnya amat besar pengaruh tangisnya itu kepada suaminya. Leman bertambah marah melihat Poniem.

“Kalau begitu kau di sini, saya tidak senang kepadamu lagi”.

“Kalau tidak senang lagi, boleh dibuang dan boleh diusir”, jawab Poniem.

Leman bertambah marah, lebih-lebih mendengarkan pekikMariatun dan disumbu-sumbi pula oleh karena perempuan yang baru datang itu.

“Kau beleh pergi dari sini ! kau orang Jawa ! Boleh turutkan orang Jawa, kau boleh kembali ke kebun ! sebelah mata saya tidak bisa pandang pada kau lagi. Pergilah dari sini, mulai sekarang saya jatuhkan kepada kau talak tiga sekali. Pergilah !”.

Hening beberapa saat tidak seorang pun menyangka bahwa keputusan yang begitu kejam dan hebat yang akan menimpa diri perempuan itu.Hening, sehingga jarum jatuh pun bisa kedengaran rasanya. Mariatun menegur saja ke lantai, dia tidak memekik lagi. Kedua perempuan yang berdiri mengurut-urut punggungnya itu terdiam saja, tak dapat menentang muka Poniem. Suyono pun melihat pula kepada Leman dengan mata tiada terpejam.
Poniem melihat kepada Leman sebagai tercengang, sebagaitak percaya dan setelah itu dilihatnya orang berkeliling, dilihatnya kedua perempuan itu, dilihatnya Mariatun dan dilihatnya pula Suyono. Seakan-akan pandangannya itu menaruh pertanyaan apa benarkah demikian keputusan yang telah ditimpakan kepada dirinya.

Talak tiga !

Ajaib……., apa benarkah itu pergaulan yang telah hampir sepuluh tahun, telah tamat pada hari itu ? Sepatah kata pun dia tidak berkata-kata lagi, Leman pun diam pula. Poniem turun kebawah dengan langkah perlahan-lahan, sambil memegangkan pinggangnya karena sakit. Diam masuk ke dalam kamarnya, dihelakannya kain-kainnya yang tersangkut disangkutan sehelai demi sehelai.Mula-mula dia sebagai kebingungan saja,tetapi bertambah sesaat bertambah hebat rasanya di dalam hati nya. Maka jatuhlah air mata setitik demi  setitik, satu diiringkan yang lain.Diangsurnya melipati kain-kain nya itu satu persatu dan disusunnya kedalam peti seng-nya sedang air matanya menitik juga. Leman telah turun pula ke bawah, dan Mariatun telah tinggal seorang diri di atas, termenung-menung. Ke dua perempuan tetangga itu pun turun pula. Ditentang kamar Poniem mereka tertegun, mereka coba hendak masuk ke dalam tetapi pintu lekas ditutup kan. Suyono telah pergi bermenung di atas bangku kecil di sudut kedai. Leman tak berkata sepatah jua.Dia duduk termenung di atas kursi. Kian lama kian diam. Sebentar-sebentar dia melihat ke kamar Poniem.

Ketika itu hari sedang tengah hari, panas amat teriknya. Orang yang lalu lintas di jalan raya kurang sekali. Ada juga lalubendi sebuah dua, tetapi tak bermuatan, kudanya mengayunkan kaki perlahan-lahan, kusirnya serupa orang mengantuk. Tiba-tiba kedengaran lah pintu kamar Poniem berkicut. Leman terkejut dari menung nya. Poniem telah ke luar, matanya merah bekas menangis, tetapi telah lama rupanya disekanya. Telah dipakainya kain-kainnya yang baru, dilekatkanya dukuh dan gelangnya, petinya diangkatnya ke luar. Leman tak dapat bergerak dari tempat duduknya. Hening sesaat.

“Abang !”

Leman diam saja, mata melihat tenang ke jalan raya.

“Sudah sekian tahun kita hidup berdua, manis dan pahit telah kita makan, lurah yang dalam telah kita terjuni dan bukit yang tinggitelah sama kita daki. Tetapi hari ini terpaksa rupanya kita bercerai”. Setelah itu tertegun bicaranya.

“Hanya satu permintaanku, Abang. Aku tidak meminta supaya perniagaan ini dihitung, dan bahagianku di keluarkan, meskipun terangada hak milikku di dalamnya. Hanya satu saja yang akan kubawa, izinkanlah”.
Lalu dia pergi ke dekat lemari kain, tempat batik-batik jualan tersusun. Diambilnya sehelai kain panjang yang tidak begitu halus.

“Biarlah sehelai ini saja hartaku kuambil dari kedai ini, akan jadi tanda mata. Mudah-mudahan Jawa buruk ini tidak lagi akan memberati di atas rumah ini”.

Kain itu diambilnya lalu dimasukkannya di dalam kopernya. Setelah koper itu dikuncinya kembali, dengan tenang di bawanya keluar kedai, ke kaki lima. Sebuah bendi yang sedang lalu, dengan kudanya yang sedang berjalan perlahan ditahannya. Setelah berhenti, dimintanya kepada Suyono supaya ditolong menaikan barangnya dia hendak ke setasiun.

“Kereta api masih lama lagi, Yu”. Kata Suyono”

“Biar di sana saya menunggu”. Jawabnya

“Tinggal Bang”. Katanya.

Tetapi Leman tidak bergerak dari tempat duduknya, dia diam saja seperti orang bisu.

Setelah bendi berangkat, Suyono kembali ke kedai,tetapi dia tidak duduk ke bangku kecil itu lagi. Dia pergi ke bilik kecilnya di sudut dapur, dikemasinya kain-kainnya, dibungkusnya dengan sebuah bungkusan kecil, lalu dia keluar dengan bungkusan itu dan terus kehadapan Leman yang sedang termenung. Dengan suara yang tetap tetapi ganjil bunyinya, dia berkata :,, Engku … saya pun hendak berangkat pula sekarang”.

Mendengar suara itu barulah Leman tersadar dari menungnya.

“Kemana engkau akan pergi ?”

“Menemui mbak Ayu !”

“Kapan kembali ?”

“Barang kali tidak akan kembali lagi !”

“Apa ?”

“Ya. Barangkali tidak akan kembali lagi. Bukankah saya kuli kontrakan pula ?” dan orang Jawa pula ?”

Sebelum Leman sanggup menjawab, dia pun keluarlah dari kedai itu, naik ke sebuah bendi dan menuju pula ke setasiun. Sampai di setasiun didapatinya Poniem duduk seorang dirinya, karena orang lain belum datang, sebab kereta api lama lagi akan berangkat.

“Mengapa engkau kemari ?” tanya Poniem.

“Kalau mbak Ayu suka, saya akan mengikuti kemana mbakAyu pergi. Bukankah kita senasib ?”

“Benar Yono”. Kata Poniem sambil menarik napas panjang.“Kita sama-sama orang Jawa !”

Dalam sesaat saja hilanglah dua pangkal keberuntungan dari dalam rumah Leman. Pertama istrinya yang setia, kedua temannya berniaga yang semakin lama menjadi tumpuan langganan dari mana-mana.

Leman termenung-menung memikirkan mulutnya yang terlanjur, dan teringat akan keadaan perniagaannya di belakang hari : Nasi sudah jadi bubur !