Kamis, 21 Agustus 2014

KRITERIA PEMIMPIN IDEAL

Bicara soal kriteria pemimpin, tentu saja kita tidak bisa melepaskan diri dari suri-tauladan yang telah diberikan oleh Rasuulullah Muhammad SAW. Kenapa ? Karena sebagai perwujudan dari kalimah syahadat kita "..dan aku mengakui bahwa Muhammad itu utusan Allaah", maka kita wajib memilih pemimpin yang memenuhi atau mendekati kriteria yang telah dicontohkan oleh baginda Rasul semasa hidupnya.

Dalam al-Qur'an ada ditegaskan oleh Allaah SWT, bahwa "sungguh telah kami ciptakan bagi kamu pada diri Rasuulullaah itu suri-tauladan yang baik [uswatun hasanah].

Sifat kepemimpinan pada Rasuulillaah itu adalah Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah [disingkat STAF].

Siddiq artinya benar, jujur, atau lurus. Seorang pemimpin --entah itu pemimpin level RT/RW sampai Presiden, atau pemimpin ormas, parpol, swasta, dll-- harus siddiq dalam menjalankan kepemimpinannya. Sifat siddiq akan membuat sang pemimpin disegani dan dihormati oleh para pengikutnya. Dengan demikian instruksi ataupun anjuran yang dia sampaikan, akan selalu mendapat respons positif dari para pengikutnya.

Tabligh artinya bisa menyampaikan dengan baik, atau dengan kata lain "komunikatif". Seorang pemimpin harus mahir berkomunikasi dengan berbagai fihak, tidak hanya pengikutnya. Komunikasi bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik lisan, tulisan, maupun dengan "bahasa tubuh". Dengan kemampuan berkomunikasi yang baik, maka para pengikut akan memahami apa yang diinginkan oleh sang pemimpin mereka; dan sebaliknya sang pemimpin pun faham apa aspirasi, ataupun keluhan para pengikutnya.

Amanah. Pada prinsipnya, kepemimpinan ataupun jabatan adalah suatu amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Sang pemimpin yang amanah senantiasa menunjukkan tanggung jawabnya dalam organisasi yang dipimpinnya. Dia tidak akan melempar kesalahan kepada para anggota ataupun kepada pihak lain.

Fathanah artinya cerdas, pintar. Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan, baik kecerdasan emosional, spritual maupun intelektual. Tidak mesti lulusan perguruan tinggi, atau bertitel banyak, namun sang pemimpin harus senantiasa mau belajar, belajar dan belajar, sehingga dia dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan umum, atau ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kepentingan organisasi yang dipimpinnya.

Demikian sedikit catatan saya.