Sampailah kita pada suatu keadaan sejarah, dimana orang benar, bermusuhan dengan orang benar. Orang mempertahankan kebenarannya berbenturan dengan orang yang juga mempertahankan kebenarannya. “Orang” ini bisa kelompok, bisa parpol, bisa front, bisa apa pun.
Pertentangan antara orang yang sama-sama yakin terhadap kebenarannya ini ‘kan harus kita cari lho, kenapa kebenaran koq bisa mempertengkarkan manusia?
Saya melihat semua yang terjadi di Indonesia ini akhirnya menemukan –mungkin saya salah-- tetapi kebenaran itu tidak untuk dibawa ke luar dari diri kita. Tetapi begitu kita keluar diri kita, yang kita bawa bukan kebenaran, yang kita bawa adalah kebaikan, keindahan, kemuliaan, upaya-upaya untuk supaya nyaman satu sama lain. Kita dengan semua orang di sekitar kita, kebijaksanaan, kearifan, bukan kebenaran yang kita bawa keluar.
Itu ibaratkan warunglah. Kebenaran itu letaknya di dapurnya warung itu. Nah, sekarang ini semua dapur-dapur warung dijadikan “display utama” dan masing-masing merasa benar. Jadi, ini kita tidak akan bisa selesai dengan seluruh pertengkaran, permusuhan, kebencian, dendam, dst, kalau kita saling menyombongkan kebenaran kita masing-masing.
Anda tahu teori kalau universalnya, ‘kan dda benarnya sendiri, kebenaran subyektif masing-masing orang, atau kelompok. Dan ada benarnya orang banyak, ini kita elaborasi, kita cari sampai akhirnya katakanlah ketemu demokrasi, ketemu kesepakatan nasional. Itu ‘kan benarnya orang banyak.
Tetapi benarnya orang banyak tidak sama dengan benar yang sejati, itu sesuatu yang bersifat cakrawala yang kita tempuh berjalan ke sana terus-menerus yang mungkin nanti ada hubungannya sama Allaah. Apalagi Allaah mengatakan bahwa kebenaran itu hanya datangnya dari-Ku. Manusia hanya dapat cipratannya dan menfsirkannya.
Nah, tafsir kebenaran ini kita harus berhati-hati. Karena saya menafsirkan kebenaran beda dengan anda menafsirkan kebenaran. Dan saya tidak akan mempertengkarkan tafsir saya dengan tafsir saya. Yang harus keluar dari diri saya kepada anda adalah mencoba berusaha menggembirakan anda, membuat anda nyaman, membuat anda nyaman, tidak saya curi barang anda, tidak saya nista harga diri anda dan tidak saya bunuh jiwa anda.
Kayaknya sih kita harus berhenti mencari, apalagi kemudian menuding, membenci dan ingin memusnahkan siapa yang salah, karena bagi yang kita tuduh siapa yang salah itu, bagi mereka, kita yang salah. Jadi kalau boleh sekarang ini kita mulai belajar mencari apa yang salah dan apa yang benar. Yang salah bisa pada saya dan bisa ada pada diri anda. Yang benar juga bisa pada saya dan bisa pada anda. Jadi, kita mencari apanya, bukan siapanya.
Kita mempersoalkan “nilai”, bukan mempersoalkan manusia. Kalau sebagai sesama manusia sebagai sesama bangsa, kita wajib menerima semuanya. Kalau kita mempertengkarkan siapa yang salah dan siapa yang benar, itu nanti akhirnya yang terjadi bukan pembuktian mengenai kebenaran, tapi yang terjadi adalah kalah menang secara kekuatan yang merupakan “tataran yang paling rendah” dari manusia.
Karena manusia itu diciptakan kayaknya bukan untuk mengalahkan orang lain, kecuali sepakbola, tinju, gendhe’, obat sodor, itu kalah sama orang lain nggak apa-apa, tetapi kalau hidup ini kita nggak ngalahain siapa-siapa. Setahu saya semua nilai, baik agama maupun yang pencariannya manusia sendiri, hidup adalah mengalahkan diri sendiri. Jadi, saya mohon maaf nggak pernah bisa ikut kompetisi kalah-menang, apakah pilkada, pilpres, pildes, karena saya ini sangat sibuk untuk berperang melawan diri saya sendiri, supaya saya nggak terlalu kalah sama diri sendiri. Itu juga sampai tua begini nggak selesai-selesai. Jadi, saya nggak punya waktu untuk kalah-menang, karena saya itu tidak pernah tega menang lawan orang. Gila apa. Saya tidak mau kalah dan tidak mau menang juga.
Makanya saya hidup bukan pada tataran kalah-menang. Saya itu hidup pada tataran kita berlomba untuk mengamankan satu sama lain, untuk saling menyamankan satu sama lain, untuk saling menimbang kearifan kebijaksanaan, supaya output dari kita itu bisa puzzling menjadi keseimbangan bersama, keseimbangan sosial.
Yang kita alami akhir-akhir ini di Indoneisa adalah ketidakseimbangan hampir komprehensif, total. Cara berfikir kita tidak seimbang, cinta kita tidak seimbang, hubungan antara fikiran dan hati tidak seimbang, hubungan antara individu denganmasyarakat tidak seimbang, antara kelompok masyarakat dengan kelompok lain, antara pemerintah dan rakyat juga tidak seimbangan. Bahkan teknis pertimbangan ekonomi tho’ saja, itu juga penuh dengan ketidakseimbangan.
Jadi, menurut saya mending daripada saya memamerkan dan menyombongkan kebenaran saya dan anda juga nanti mempertahankan diri dengan menyombongkan dan memamerkan kebenaran anda, mending kita bekerja sama untuk mencari bersama-sama kemungkinan untuk menciptajan keseimbangan nasional.
Jadi kalau kita naik bis, itu rasa kita rasa bis, bukan rasa colt, bukan rasa kereta api. Jadi, cara berfikirnya, cara “berhitungnya” adalah bis, terutama supirnya. Mau belok di perempatan, mau nyalip di perempatan itu harus tahu besarnya bis.
Kalau kita orang NKRI, sikap kita adalah sikap NKRI, cara berfikir kita adalah cara berfikir NKRI, bukan cara berfikir PDIP, Golkar, Hizbut Tahrir, Nasdem, atau apa pun. Cara berfikir kita harus NKRI !
Kalau anda berkuasa, anda justru yang paling berkewajiban untuk berfikir secara NKRI. Bukan berfikir karirmu sebagai Presiden kek, menteri kek, tetapi berfikir mempersembahkan seluruh jiwa raga kita ini untuk kepentingan tunainya NKRI, untuk utuhnya NKRI.
Maksudnya begini : nggak ada dong kalau kita befikir NKRI, maka nggak ada kelompok Bhinneka Tunggal Ika. Masa’ Bhinneka Tunggal Ika kelompok ? Kalau Bhinneka Tunggal Ika, kalau kita mau unjuk rasa, ya semuanya harus kita ajak! Karena penduduk manusia, jin, setan, iblis, demit segala macam itu Bhinneka Tunggal Ika. Ente juga jangan berfikir cuman manusia yang menghuni Indonesia, ada buaanyak yang lain. Dari masa silam, masa depan, ada yang dari langit, ada dari homo sapiens, masih ada sisa-sisanya, semua harus kita terima!
Satu-satunya jalan, kita harus punya kematangan....., harus punya keluasan berfikir. Mau FPI, mau HTI, mau HRS, siapa pun, dituntut untuk memiliki kearifan, kebijaksanakan dan ilmu yang seluas-luasnya untuk saling mengapresiasi satu sama lain.
Kita tidak bisa meneruskan Negara dimana yang satu merasa dirinya malaikat dan menuduh yang lainnya setan. Dan bukan hanya menuduh karena dia berkepentingan. Dia yakin dia seperti malaikat dan dia yakin yang lainnya diyakini sebagai setan.
Ini bukan Bharata Yudha, tapi Pandawa Yudha, karena masing-masing merawa Pandawa, masing-masing merasa Yudhistira, merasa Bima, merasa Arjuna, Nakula dan Sadewa. Selama kita masih seperti itu, maka saya nggak mau ikut, karena Indonesia sangat saya cintai. Gitu.
Emha Ainun Najib di Acara ILC, Selasa, 23 Mei 2017
Pertentangan antara orang yang sama-sama yakin terhadap kebenarannya ini ‘kan harus kita cari lho, kenapa kebenaran koq bisa mempertengkarkan manusia?
Saya melihat semua yang terjadi di Indonesia ini akhirnya menemukan –mungkin saya salah-- tetapi kebenaran itu tidak untuk dibawa ke luar dari diri kita. Tetapi begitu kita keluar diri kita, yang kita bawa bukan kebenaran, yang kita bawa adalah kebaikan, keindahan, kemuliaan, upaya-upaya untuk supaya nyaman satu sama lain. Kita dengan semua orang di sekitar kita, kebijaksanaan, kearifan, bukan kebenaran yang kita bawa keluar.
Itu ibaratkan warunglah. Kebenaran itu letaknya di dapurnya warung itu. Nah, sekarang ini semua dapur-dapur warung dijadikan “display utama” dan masing-masing merasa benar. Jadi, ini kita tidak akan bisa selesai dengan seluruh pertengkaran, permusuhan, kebencian, dendam, dst, kalau kita saling menyombongkan kebenaran kita masing-masing.
Anda tahu teori kalau universalnya, ‘kan dda benarnya sendiri, kebenaran subyektif masing-masing orang, atau kelompok. Dan ada benarnya orang banyak, ini kita elaborasi, kita cari sampai akhirnya katakanlah ketemu demokrasi, ketemu kesepakatan nasional. Itu ‘kan benarnya orang banyak.
Tetapi benarnya orang banyak tidak sama dengan benar yang sejati, itu sesuatu yang bersifat cakrawala yang kita tempuh berjalan ke sana terus-menerus yang mungkin nanti ada hubungannya sama Allaah. Apalagi Allaah mengatakan bahwa kebenaran itu hanya datangnya dari-Ku. Manusia hanya dapat cipratannya dan menfsirkannya.
Nah, tafsir kebenaran ini kita harus berhati-hati. Karena saya menafsirkan kebenaran beda dengan anda menafsirkan kebenaran. Dan saya tidak akan mempertengkarkan tafsir saya dengan tafsir saya. Yang harus keluar dari diri saya kepada anda adalah mencoba berusaha menggembirakan anda, membuat anda nyaman, membuat anda nyaman, tidak saya curi barang anda, tidak saya nista harga diri anda dan tidak saya bunuh jiwa anda.
Kayaknya sih kita harus berhenti mencari, apalagi kemudian menuding, membenci dan ingin memusnahkan siapa yang salah, karena bagi yang kita tuduh siapa yang salah itu, bagi mereka, kita yang salah. Jadi kalau boleh sekarang ini kita mulai belajar mencari apa yang salah dan apa yang benar. Yang salah bisa pada saya dan bisa ada pada diri anda. Yang benar juga bisa pada saya dan bisa pada anda. Jadi, kita mencari apanya, bukan siapanya.
Kita mempersoalkan “nilai”, bukan mempersoalkan manusia. Kalau sebagai sesama manusia sebagai sesama bangsa, kita wajib menerima semuanya. Kalau kita mempertengkarkan siapa yang salah dan siapa yang benar, itu nanti akhirnya yang terjadi bukan pembuktian mengenai kebenaran, tapi yang terjadi adalah kalah menang secara kekuatan yang merupakan “tataran yang paling rendah” dari manusia.
Karena manusia itu diciptakan kayaknya bukan untuk mengalahkan orang lain, kecuali sepakbola, tinju, gendhe’, obat sodor, itu kalah sama orang lain nggak apa-apa, tetapi kalau hidup ini kita nggak ngalahain siapa-siapa. Setahu saya semua nilai, baik agama maupun yang pencariannya manusia sendiri, hidup adalah mengalahkan diri sendiri. Jadi, saya mohon maaf nggak pernah bisa ikut kompetisi kalah-menang, apakah pilkada, pilpres, pildes, karena saya ini sangat sibuk untuk berperang melawan diri saya sendiri, supaya saya nggak terlalu kalah sama diri sendiri. Itu juga sampai tua begini nggak selesai-selesai. Jadi, saya nggak punya waktu untuk kalah-menang, karena saya itu tidak pernah tega menang lawan orang. Gila apa. Saya tidak mau kalah dan tidak mau menang juga.
Makanya saya hidup bukan pada tataran kalah-menang. Saya itu hidup pada tataran kita berlomba untuk mengamankan satu sama lain, untuk saling menyamankan satu sama lain, untuk saling menimbang kearifan kebijaksanaan, supaya output dari kita itu bisa puzzling menjadi keseimbangan bersama, keseimbangan sosial.
Yang kita alami akhir-akhir ini di Indoneisa adalah ketidakseimbangan hampir komprehensif, total. Cara berfikir kita tidak seimbang, cinta kita tidak seimbang, hubungan antara fikiran dan hati tidak seimbang, hubungan antara individu denganmasyarakat tidak seimbang, antara kelompok masyarakat dengan kelompok lain, antara pemerintah dan rakyat juga tidak seimbangan. Bahkan teknis pertimbangan ekonomi tho’ saja, itu juga penuh dengan ketidakseimbangan.
Jadi, menurut saya mending daripada saya memamerkan dan menyombongkan kebenaran saya dan anda juga nanti mempertahankan diri dengan menyombongkan dan memamerkan kebenaran anda, mending kita bekerja sama untuk mencari bersama-sama kemungkinan untuk menciptajan keseimbangan nasional.
Jadi kalau kita naik bis, itu rasa kita rasa bis, bukan rasa colt, bukan rasa kereta api. Jadi, cara berfikirnya, cara “berhitungnya” adalah bis, terutama supirnya. Mau belok di perempatan, mau nyalip di perempatan itu harus tahu besarnya bis.
Kalau kita orang NKRI, sikap kita adalah sikap NKRI, cara berfikir kita adalah cara berfikir NKRI, bukan cara berfikir PDIP, Golkar, Hizbut Tahrir, Nasdem, atau apa pun. Cara berfikir kita harus NKRI !
Kalau anda berkuasa, anda justru yang paling berkewajiban untuk berfikir secara NKRI. Bukan berfikir karirmu sebagai Presiden kek, menteri kek, tetapi berfikir mempersembahkan seluruh jiwa raga kita ini untuk kepentingan tunainya NKRI, untuk utuhnya NKRI.
Maksudnya begini : nggak ada dong kalau kita befikir NKRI, maka nggak ada kelompok Bhinneka Tunggal Ika. Masa’ Bhinneka Tunggal Ika kelompok ? Kalau Bhinneka Tunggal Ika, kalau kita mau unjuk rasa, ya semuanya harus kita ajak! Karena penduduk manusia, jin, setan, iblis, demit segala macam itu Bhinneka Tunggal Ika. Ente juga jangan berfikir cuman manusia yang menghuni Indonesia, ada buaanyak yang lain. Dari masa silam, masa depan, ada yang dari langit, ada dari homo sapiens, masih ada sisa-sisanya, semua harus kita terima!
Satu-satunya jalan, kita harus punya kematangan....., harus punya keluasan berfikir. Mau FPI, mau HTI, mau HRS, siapa pun, dituntut untuk memiliki kearifan, kebijaksanakan dan ilmu yang seluas-luasnya untuk saling mengapresiasi satu sama lain.
Kita tidak bisa meneruskan Negara dimana yang satu merasa dirinya malaikat dan menuduh yang lainnya setan. Dan bukan hanya menuduh karena dia berkepentingan. Dia yakin dia seperti malaikat dan dia yakin yang lainnya diyakini sebagai setan.
Ini bukan Bharata Yudha, tapi Pandawa Yudha, karena masing-masing merawa Pandawa, masing-masing merasa Yudhistira, merasa Bima, merasa Arjuna, Nakula dan Sadewa. Selama kita masih seperti itu, maka saya nggak mau ikut, karena Indonesia sangat saya cintai. Gitu.
Emha Ainun Najib di Acara ILC, Selasa, 23 Mei 2017