Kamis, 26 Desember 2013

MERANTAU KE DELI, oleh Buya HAMKA (Bagian 10 : DUA KAPAL, SATU JURAGAN)

Telah dirasai oleh Leman nikmatnya beristri baru dan masih perawan. Kadang-kadang dia menyesal, mengapa nikmat yang seindah itu baru sekarang dirasainya. Sudah habis saja mudanya terbuang-buang selama ini. 

Apalagi menurut orang-orang yang telah biasa kawin, yang kedua dan ketiga itu, sekali perkawinan, sepuluh tahun umur surut ke belakang. Yang sukar hanyalah ketika akan menempuh yang kedua itu, sebab belum pernah. Tetapi apabila sekali telah dicoba tentu hendak mencoba terus, kawin dan kawin lagi,dan kalau dapat, tiap-tiap kawin itu hendaklah yang perawan juga, selalu awak berbaru-baru.

Oleh sebab itu, meskipun diakuinya kasihnya masih lekat pada Poniem,tetapi telah habis hari-hari yang jatuh di rumah baru, lalu dia pulang ke rumah yang lama, tak obah seperti orang dagang yang kembali dari Jakarta ke Payakumbuh, dari negeri yang seramai-ramainya pindah ke negeri yang amat lengang.

Di rumah Mariatun segala baru, di rumah yang tua segalanya usang. Sampai kepada susun tempat tidur, atau pun bantal, semuanya berbeda, semuanya berobah. Bukan saja itu, senda gurau pun berobah pula. Gelut dan cengkerama dengan istri yang muda, timbul daripada hati girang, sehingga mau rasanya berbenam saja ditempat tidur dari pagi hingga petang, sampai malam, karena hendak bergurau, kalau bukan karena banyaknya pekerjaan yang akan terlantar. Tetapi di rumah yang tua, tidak bisa dilakukan yang demikian, tidak tergerak hati lagi. Ada juga dicoba-cobanya memanis-maniskan mulut, bergurau dan bercanda pula. Tentu hal itu bukan timbul dari hati, melainkan dipaksa-paksa supaya jangan berkesan benar. Dan meskipun begitu, tentu Poniem yang telah merasa dirinya orang lama, sudah hampir sepuluhtahun. Oleh karena demikian tentu saja pergurauan itu tak dapat diteruskan,sebab menjemukan.

Maka tidaklah heran, disamping hiba kasihan kepada Poniemitu, timbul jemu apa bila di dalam rumahnya, dan rasa-rasa diungkit hari supaya lekas siang, agar segera pergi pula kerumah yang muda. Sampai disana, belum lagi naik keatas rumah, telah di sambut dengan senyum manis, tangan telah dipegangnya, maklumlah gadis yang baru bersuami.

Sungguh ! Yang begini belum pernah dialaminya selama ini. Memang kembali muda usainya.

Demikianlah keadaan Leman yang menangis tersedu di atas keharibaan Poniem ketika akan pergi kawin itu. Bukan pula hal itu berobah karena dipaksakannya, bukan dibuat-buat, melainkan sudah semestinya demikian.Apakah dia harus bermenung-menung pula di rumah istri barunya ? Apakah diamesti menekur-nekur dan berinsaf-insaf diri apabila telah sampai di sana ? Padahal hidup yang sedemikian nikmat belum dikenalnya selama ini ? Dan apakah setiba di rumah istrinya yang tua dia mesti berbuat lebih daripada kesanggupannya ? Menunjukkan kasih sayang sebagaimana terhadap istrinya yangmuda ? Bukankah perhubungannya selama ini bukan perhubungan gelut dan candagurau lagi ? Tetapi telah mulai tua dan telah matang sifatnya, telah bergantimenjadi perhubungan diantara dua sahabat yang sehidup semati, yang sama-sama telah mendaki bukit dan menuruni lembah ? Bukankah beristri muda ini kesempatan baginya buat beristirahat, bagi melepaskan kepayahan dan keberatan tanggungan itu ?

Tidak bisa jadi, tidak mungkin, walaupun air mata darah yang dikeluarkannya ketika dia akan pergi beristri dahulu. Tidak bisa dia mengelakkan kejadian yang sebagai sekarang. Pada masa itu dia menangis, sebab dia belum beroleh obat untuk menimbulkan tertawa. Cuma ada setengah laki-laki yang bisa berlaku cerdik, tidak kelihatan perobahan hatinya lantaran pandainya membawakan. Meskipun bagaimana telah jemunya kepada istri yang tua, dan bagaimanapun tertumpah hatinya kepada istri yang muda, namun giliran pulang dijaganya juga dengan sebaik-baiknya, jamnya ditentukannya, kesalnya tidak diperlihatkannya,makanan dienakkannya juga, walaupun pahit bagai rimbang. Tetapi setengahlaki-laki, terutama darah muda yang belum kenal timbangan hidup, mulai sajaistrinya diduainya, haluannya pun berobah dengan segera.

Leman adalah termasuk pada golongan yang pertama. Didalam hatinya masih ada sedikit pertimbangan. Dia insaf bahwa kemanisan hidup bagai madu dengan istri muda itu tidaklah akan lama. Orang sudah tertawa bahwasanya kemanisan hidup beristri yang mendatangkan senda gurau selambat-lambatnya hanya tiga bulan. Bangsa Eropa hanya menjangkakan satubulan, yang dinamainya bulan madu. Lepas dari waktu yang ditentukan itu,mulailah kedua suami istri itu masuk kedalam gelanggang hidup, menegakkan suatu rumah tangga. Ketika itulah kelak berdamai, mempertemukan perangai dan kebiasaan masing-masing yang selama ini belum begitu dikenal. Diwaktu ombak besar, disanalah waktunya dapat ditandai, siapakah diantar mereka yang tahan dan yang tiada lekas mabuk.

Orang yang beristri lebih dari seorang, lepas dari bahaya itulah dapat diujinya siapakah diantara kedua istrinya itu yang akan menjadi teman tidur, dan siapa yang akan menjadi teman hidup. Oleh sebab itu kadang-kadang, setelah bergaul bertahun-tahun, cinta kasih itu tetap juga lekat pada yang tua, karena yang tua yang tahan, dan yang muda tinggallah sebagai beban berat, yang kadang-kadang kala suami bukan bangsa peyabar dan suka mempermurah-murah hidup, diceraikannya istri itu dengan tidak semena-mena.

Tetapi yang terlebih banyak, yang tua lah yang tercampak, karena daya tariknya lahir batin tak ada lagi, laksana sepah sirihyang diluahkan dari mulut karena sarinya telah habis.

Leman ada juga mempunyai pertimbangan seperti itu agak sedikit. Tetapi ada pula tabiatnya yang patut dicela, yaitu dia lekas marah.Kepada anak-anak gajian yang bekerja dengan dia, kalau ada sesuatu kesalahan yang dipandangnya merugikan, marahnya pun timbul, mulutnya bertaburan saja padahal kesalahan itu belum diperiksanya. Kelak setelah marah terlepas, dia menyesal, apa lagi kalau ternyata kesalahan itu sebenarnya belum patut menerima hukuman yang seberat itu dan dibalasi dengan kata yang sekasar itu. Orang yangpelekas marah itu lekas sekali pemaaf dan lekas menyesal. Sebab itu hatinya baik, padanya tak ada dendam. Dan kalau kena pula jalan penundukkan hatinya,mudah saja air matanya jatuh.

Poniem telah tahu benar tabiat suaminya ini. Sebab itu,selama ini jika dia marah, Poniem diam saja, jarang sekali kehendak Leman yangdibantahnya. Dalam pada itu, Leman lekas percaya kepada orang. Kalau datang orang meminta bantu, mau dia memberikan barangnya dan uangnya dengan tidak menyelidiki orang itu terlebih dahulu, Poniem juga yang mempertahankan supaya jangan sampai suaminya menanggung kerugian.

Sejak beristri muda, telah habis masa sebulan,perhatiannya terhadap perniagaan agak kurang. Tetapi Poniem tidak dapat berterus terang sebagai dahulu lagi. Keadaan itu sudah mesti berobah, sudah banyak hal-hal yang mesti difikirkannya dan ditanggungnya pula. Dizaman yang sudah-sudah lambat suaminya akan bangun, segera dibangunkannya. Lalai suaminya menegur orang-orang yang dilepas pergi berniaga ke kebun-kebun, mencocokkan barang-barang yang laku dengan pembayaran kembali (setoran) menurut bunyifaktur, Poniem yang memberi ingat. Sekarang dia sudah agak enggan. Kalau suaminya terlambat datang dari rumah Mariatun, mukanya manis juga, nasi dihidangkannya, kopi secangkir penuh, buatannya sendiri, kue-kue, sabun mandi,semuanya tersedia dan dia tidak mau menanyakan, apa sebab terlambat, dan apa sebab perniagaan kurang diperhatikan. Takut dia, suaminya akan salah terimakepadanya. Hanya akan dinantikannya pada suatu-suatu yang baik, sedang hati suaminya terbuka.

Syukur juga ada Suyono, orang gajian yang setia itu.Meskipun majikkannya kurang giat bekerja, dialah yang sekarang lebih giat, sehingga langganan-langganan dikebun, bayaran bulanan dan bayaran kontan,menerima juga dengan baik. Cuma bayaran kepada toko yang di Medan yang agakkurang lancar pada bulan itu. Ketika dia disuruh oleh Leman mengantarkanbayaran habis bulan, dia telah disindir, panjang pula pertanyaan tuan tokoorang Arab itu, apa sebab maka kurang bayaran sudah dua kali.

Telah habis hari sebulan, dua bulan dan telah masuk dibulan ketiga, bayaran ke toko tidak sebanyak yang dahulu lagi. Sebab orangtoko pun tidak sebanyak dahulu pula lagi memberikan barang, sehingga kedai agak sepi sedikit. Kotak-kotak yang bersusun di atas lemari, adalah kotak-kotak kosong yang disusun oleh Suyono dengan bijaksana, sehingga tidak kelihatan kekurangan itu.

Tanggal sepuluh datanglah tagihan sewa rumah untuk bayaran rumah Mariatun, karena bulan yang dahulu pun belum dibayar pula. Dengan heran tercengang Leman menanyai Suyono apa sebab uang di dalam kotak tidak banyak lagi. Dengan hormat sambil membongkokkan punggungnya Suyono menerangkan herannya pula. Sebab pembayaran dari langganan-langganan sekali-kali tidak berkurang. Orang-orang yang menerima amanat menyetor dengan baik. Cuma pembayaran kepada toko yang telah agak kurang lancar telah dua bulan.

Mendengarkan itu mata Leman bertambah terbeliak. Dilihatnya Suyonotenang-tenang dan dilihatnya pula Poniem dia seakan-akan tidak percaya.

“Saya heran, saya tidak percaya !”

Selama ini Poniem cukup sabar, karena sabar itulah alat yang paling baik bagi seorang perempuan apabila suaminya telah beristri pulalagi. Terutama bagi dirinya sendiri. Dia insaf kalau dia tidak sabar, dia bisa terbuang buruk saja. Tetapi yang sekali ini, karena ucapan yang demikian belum pernah dihadapkan kepadanya walaupun bagaimana marah suaminya, apalagi telah bertindih-tindih pula perasaan yang telah lama terkurung, tersirat jugadarahnya mendengarkan perkataan : “Tidak percaya” itu.

“Apa yang abang maksudkan dengan perkataan “tidakpercaya ?” tanya Poniem dengan tersenyum, tetapi pahit. Mendengar pertanyaanitu Leman insaf akan kesalahan perkataannya. Tetapi dia tidak mau mundur lagi.Kalau yang sudah-sudah lekas dia mundur kena sanggahan Poniem, ini keadaantelah berlain. Sebab itu dijawabnya pula dengan perkataan yang agak keras :“Saya kurang percaya apa sebab maka demikian, apa sebab pembayaran ke tokotidak penuh dan sewa rumah tidak akan terbayar, kalau memang bayaran langganandan setoran orang dagangan penuh juga. Hal ini nanti kita periksa dengan teliti. Nanti malam kita hitung barang-barang dan kita reken perniagaan kita”.

“Itu memang patut” ujar Poniem.

Suyono berdiri saja dengan hormatnya.

Pada malamnya dijalankanlah sepanjang perintah Lemanitu. Poniem memasakkan kopi di belakang bersama dengan kue-kuenya. Lemanmenurunkan kotak-kotak yang telah kosong dari atas lemari. Dia tercengang karena kosong.

“Ai, kotak-kotak ini pun telah kosong”. Ujarnya sambil melihat kepada Suyono dengan muka yang penuh mengandung soal. Bekas kuli kontrak yang setia itu diam saja. Sepatah dia tidak menyahut. Dia hanya asyik menurunkan barang-barang yang bersusun di dalam lemari. Setelah siap diturunkan semuanya, ditolong oleh seorang anak gajian yang lain, dimulailah menghitung dengan seksama. Dimulai sejak pukul tujuh malam, hampir pukul satu malam baru selesai penghitungan itu. Kedapatan bahwa penjualan beres, pemenerimaan piutang teratur dan tidak ada terjadi suatu kecurangan. Cuma yang terang kekusutan dan kekurangan itu terjadi ialah lantaran Leman tidak menentu mengambil uang,berapa sukanya saja.

Demikianlah baru tingkatan perusahaan bangsa kita. Mereka itu pandai berniaga, tahu menjual dan membeli tetapi tidak tahu dan tidak pandai bagaimana cara berdagang memakai buku. Berapa saja uang untukkeperluan dirinya sendiri diambil, tetapi catatannya tidak terang. Barang yangdiambil atau uang yang dipakai itu dinamai saukkan. Pada hitungan perniagaan itu tidak rugi, tetapi pada keadaan, pokoklah yang telah termakan.

Bila uang telah banyak, pikiran telah ragu, akan dipangapakankah uang itu. Yang lebih dahulu diusahakan ialah menambah barang perhiasan istri, gunanya ialah untuk tempat “lari” ketika terdesak.

Sesudah perhitugan itu, sudah nyata bahwa belanja padamasa tiga bulan ini belebih dari mestinya. Itulah sebabnya maka kurangpembayaran kepada toko. Leman sekarang telah insaf. Terasa olehnya menyesal karena mulutnya telah terdorong kepada istrinya, mengatakan “tidak percaya”itu. Dan telah insaf pula dia, bahwa sekarang yang menjadi tiang pada perniagaannya, yang membelanya diwaktu terjadi hal yang kusut, ialah Suyono orang gajian yang setia itu.

Sehabis berhitung dia berkata : “Suyono, sekarang sudah saya ketahui hal ini. Memang saya telah khilaf, sudah lalai memperhatikan jalan perniagaan selama dua bulan ini. Kalau bukan karena pertolongan engkau, agaknya akan tertelungkuplah kita. Apalagi sekarang ini perniagaan agak sepi. Sebab itu, untuk menghargai jasa mu yang begitu mulia, mulai besok engkau tidak sebagai makan gaji saja di sini. Engkau saya bawa berkongsi ;

“Terima kasih banyak-banyak engku”. Jawab Suyono dengan girangnya.

“Saya berikan kepada mu kepercayaan yang luas. Ditanganmu lah maju mundurnya perniagaan kita ini”.

“Terima kasih banyak-banyak engku”.

Setelah itu mereka pun masuk tidur. Dan waktu itulah Leman mengambil kesempatan untuk meminta maaf kepada Poniem. Poniem hanya membalasnya dengan senyum saja.

Setelah pagi hari, kelihatan benar jernihnya muka Leman. Dimulainya pula berkata sambil menjentik-jentik rokoknya :

“Apakah engkau setuju Poniem, jika rumah yang dua kita satukan saja ?”

“Bagaimana yang akan baiknyalah”. Jawab Poniem.

“Engkau bagaimana Suyono ?”

“Saya pun menurut”, jawab Suyono.

“Ya, coba tuan-tuan pikir, kalau rumah diduakan juga,tentu lebih belanja kita dari penghasilan. Bagaimana Poniem ?”

“Betul”. Jawab Poniem pula karena tabiat Leman telah diketahuinya.

“Kalau jadi kita satukan, dimana engkau Poniem dan dimana Mariatun kita letakkan ? Dan engkau sendiri Suyono, tentu boleh kita buatkan saja kamar di bahagian belakang”.

“Perkara saya pekara gampang, engku. Saya menyewa kamar saja di luar rumah ini, tidaklah mengapa. Atau di belakang sebagai engku aturkan itu”.

“Siapa yang baik di loteng dan siapa yang baik di bawah?” Tanya Leman pula.

“Saya menurut dimana yang akan baik”. Jawab Poniem.

“Kalau begitu biarlah engkau di bawah, engkau yang tuadan Mariatun biarlah di loteng”.


“Baik juga”. Jawab Poniem.
Hal ini disampaikan pula kepada Mariatun. Mariatun mula-mula menyatakan keberatannya. Karena telah terasa senang olehnya tinggal merdeka di rumah sendiri. Dan kalau sekiranya jadi serumah, tentu ibunya yangturut mengantar dan menjadi temannya selama ini akan terpaksa disuruh pulang saja tetapi karena Leman meminta berhiba-hiba, mau jugalah Mariatun. Memang diapun memilih tempat di atas juga, sebab di atas sudah lebih lapang.

Ketika segala barang-barang dan tempat tidurnya telahdipindahkan ke dalam rumah kedai itu, Mariatun merasa malu. Apalagi dia akandiserumahkan dengan madunya, dia merasa keberatan. Tetapi apa boleh buat,karena kehendak suaminya agak keras. Padahal kalau tidak diturutinya sekarang,tentu dia akan rugi. Apalagi ibunya membisikkan lebih baik kehendak suaminyaitu dituruti. Supaya dia pun ikut pula memperhatikan perniagaan dan berkuasapula atas harta benda suaminya. Jangan sampai “orang lain” itu saja yang beroleh laba dan keuntungan sebagaimana selama ini.

Ketika telah masuk kedalam rumah itu, dia disambut oleh Poniem dengan budi yang halus. Dipandanginya sebagai adik layaknya. Lemansenang hatinya lantaran itu.

Tidak berapa hari setelah dia serumah di dalam kedai itu, ibu Mariatun pulang ke kampung. Sebelum dia berangkat, banyak “pengajaran”yang diberikannya kepada Mariatun, bagaimana caranya menarik hati suami,bagaimana jika seorang dengan madu, jangan mau dikalahkannya. Apalagi dia itu kalau dibuangkan oleh suaminya, tidakkan ada tempatnya bergantung lagi.

Sekarang keadaan sudah hampir baik, setoran habis bulankepada toko sudah kembali baik pula. Kedua perempuan itu hiduplah serumah,seorang di atas loteng dan seorang di bawah. Leman pun sudah agak senang daridahulu sedikit, karena Suyono bertambah lama bertambah pandai juga berniaga,lagi hemat. Langganannya, terutama di dalam lingkungan kuli kontrak pun banyakpula, sebab mereka amat senang diselenggarakan oleh bangsanya sendiri.

Masih belum apa-apa kalau kedua istri itu diserumahkan,kalau mereka salah satu atau keduanya belum merasa bahwa mereka turut berhak pula di dalam rumah itu. Kalau si istri hanya merasai bahwa dirinya hanyamenumpang saja, dan cukup mempunyai kekuasaan ialah suaminya semata-mata,amanlah pergaulan dan tuluslah keduanya terhadap suami. Tetapi kalau seorangdiantaranya telah merasa lebih daripada yang lain, atau salah seorang telahmerasa dia yang lebih berhak di atas rumah itu, itulah alamat celaka. Apalagi kalau si suami tidak pula pandai mengemudikan.

Sudah sebulan dan telah dua meningkat tiga bulan, waktu itu berangsurlah kelihatan sifat yang asli dari kedua perempuan itu. Poniemselama ini sabar dan tenang, sekarang sudah kurang kesabarannya. Bagaimana dia tidak akan sabar selama itu, sebelum dia dipermadukan, padahal selama itu diamasih yakin bahwa suaminya hanya haknya seorang, tidak berkongsi dengan yanglain. Dahulu apapun yang diberikan diterimanya, dan kalau sekali-kali suami marah kepadanya, ditahannya. Sekarang dia telah meminta keadilan, karena keadilan itulah haknya. Kurang-kurang sedikit telah dijadikannya persoalan,bahkan nama yang cepat lebih dahulu dipanggil oleh suaminya telah sangat diperhatikannya.

Mariatun kian lama kian nyata pula perangainya semasa baru kawin dia masih agak bodoh, belum begitu tahu dia percaturan di dalam rumah. Tetapi sekarang dia telah mulai “pintar”. Banyak sebab-sebab yang akan mendatangkan selisih dalam rumah itu. Dia tidur di loteng, bangunnya tinggihari, turunya dari tangga loteng itu dilambat-lambatnya kakinya, padahal kamar Poniem di bawah loteng itu. Sedang Poniem sudah semenjak tadi repot menyelenggarakan dapur dan menyiapkan makanan dan minuman. Kalau dia mandi bukan main lamanya di kamar mandi, berbedak dan berlangir dahulu, setiap pagi dan sore dia bertukarbaju, bedaknya ditebal-tebalkan dan hampir setiap pagi rambutnya dibasahinya, ketika memeras rambut itu dengan kain handuk, sengaja agak diperlihatkan di mukaPoniem. Dia yang lebih suka hanya duduk ke muka, ikut pula menjualkan barang-barang dengan suaminya. Meskipun sekali-sekali disuruh kebelakang dengan lemah lembut oleh Leman, dia duduk juga. Dia menolong melipat-lipat kain, dan kadang-kadang dia memerintah pula kepada Suyono. Oleh Suyono perintah itu diikuti saja, dengan ramah tamah. Sedang Poniem terbenam di dapur, mengukur kelapa membelah kayu, mengiling lada. Kelak kira-kira pukul satu tengah haridatanglah waktu makan. Waktu itu barulah Mariatun pergi sambil tersenyum-senyum ke belakang. Leman telah duduk menunggu nasi akan terhidang. Poniem lah yangmengaduk, sedang yang menantingkan ke muka ialah Mariatun, sambil tersenyum-senyum simpul juga. 

Mula-mula masih sabar Poniem menurutkan perangai madunya itu. Tapi lama-lama tentu akan penuh juga ibarat orang mengantang. Satu kali dibuatnya pura-pura sakit, tidak dia ke dapur dan tidak dia bangun dari tidurnya. Maka repotlah pula Mariatun menyelenggarakan di dapur. Selama ini tidak kentara kekurangannya itu, karena ibunya masih ada yang menolong. Rupanya mengukur kelapa tidaklah secepatnya berbedak dan mengupas bawang tidaklah sesigapnya meraut alis mata. Sudah hampir pukul dua belum juga ada yang terletak di atasmeja. Leman telah berbalik-balik ke belakang. Pukul dua barulah terletak,rupanya hanya dua macam sambel. Setelah dicoba oleh Leman, perutnya tidakbergitu suka menerima, rupanya kurang campur diantara lada dengan asam, bawang dengan garam, dan ikan masih tetap seanyir keluar dari lautan. Tentu agak payah Leman mengurut kerongkongannya supaya sambel-sambel itu lalu dan masuk dengan lasusnya kedalam perut. Hatinya kurang tahan, dari mulutnya melompat perkataan:”Gulai kurang garam, Mari”. Perkataan itu agak keras, jelas terdengar oleh Poniem yang berbenam di dalam kamar dari tadi. Mariatun sangat malu mendengar cerca suaminya itu. Dengan perkataan agak kasar dijawabnya : “Orang yang enak masakannya sakit kepala”. Mukanya merah berkata itu. Leman merasa bahwa cercanya itu salah. Tetapi oleh karena tidak tahan bagaimanalah hendak menyembunyikannya. Sedang ia hendak mengayun suapnya lagi, Poniem keluar dari kamar dengan kepala berikat. Dengan perlahan-lahan dia pergi ke belakang, diambil batu lada lalu dibuatnya sambal lada bercampur terasi, dikerjakannya cepat-cepat dan diantarkannya kepada suaminya yang tengah makan bersama-sama dengan Suyono itu. Suyono sudah lekas berhenti makan karena dirasanya sendiribagaimana kurang enaknya udara waktu itu. Mariatun sudah lari saja ke Loteng dengan muka merah. Poniem telah duduk ke dekat suaminya yang tengah makan itu, menyelenggarakannya sampai sesudah-sudahnya.

“Kepala saya sakit dari pagi Bang”.

“Barang kali sakit dibuat-buat, karena hendak memberi malu Mariatun”. Kata Leman dengan muka marah pula.

“Sakit kepala tidak bisa dibuat-buat”. Kata Poniem pula. Sejak kejadian yang sekali itu, tidaklah ada perdamaian lagi dalam rumah.Suasana senantiasa keruh saja. Suatu kali terjadi pula perselisihan yang hampir saja meletus menjadi peperangan mulut. Celana tidur Leman habis dicucinya pagi-pagi dihampaikan oleh Mariatun berdekatan dengan sarung tidurnya. Mariatun hendak mempertunjukkan, bahwa tidur mereka amat enak semalam. Gelap benar hatiPoniem melihat perangai yang rendah itu. Kain itu disentakkannya dari hampaian kain dengan marahnya dan celana itu dilemparkannya masuk api yang sedang bernyala. Ketika itu Leman sedang tidak ada di rumah.

“Kau memang tidak punya pikiran Mariatun, kau sangkutkan kain sarung tidur mu di dekat celana suami ku. Kau boleh berbuat apakau suka disini, tetapi jangan melewati batas”.

“Suka hati ku dengan harta benda ku. Apa saja perbuatan akan diperbuat dengan dia sedang dia dengan saya, apa yang menyakitkan hati mu?” tanya Mariatun.

“Tentu saja perbuatan itu menyakit hati ku, perbuatanitu sangat rendah”.

“Kalau suami ku kasih pada ku segala macam perbuatan akan kami lakukan di atas rumah ini”.

“Tetapi kau lupa bahwa di sini ada pula seorang lagi perempuan, ada pula seorang manusia yang berhak pula atas suami mu itu yangharus kau pandang sekurang-kurangnya sesudut mata mu”.

Sambil mengecimuskan bibirnya Mariatun berkata pula :“Apa yang akan saya pandangkan kepada mu ? Bukankah kau hanya seorang yang menumpang di sini ? dari manakah alasan mu, tidak kah kau tahu ? Orang manakah engkau, tidakkah engkau ingat ? Lupakah kau asal mulanya kau dipungut oleh suami ku ? Aku sendiri apa yang akan ku perbuat di atas rumah ini tak pun yang akan menghalangi. Abang Leman suami ku, suami ku yang sah dengan doa selamat,dengan nikah, dengan sepakat segenap famili kami. Kami di nikahkan menurutadat, setahu ninik mamak. Engkau sendiri hendak banyak mulut, hendak melarang dan menyuruh, seperti engkau yang berkuasa di sini. Tidakkah engkau tahu bahwa engkau menompang di sini Hai orang Jawa ? Cis tidak ada malu !”

“Mariatun !...... Mengapa sudah sampai kesana kasarnya perkataan mu ?”

“Iya ! Engkau hendak menyombong masakan mu enak, penggulaianmu di makan oleh suami ku. Memang kalau orang dasar babu enak penggulaiannya. Saya memang tidak enak penggulaian, saya tidak bisa ke dapur,saya orang pingitan oleh ibu bapak ku, bukan orang sembarangan”. Perkatan itu sudah terlalu ribut. Kebetulan kedengaran bunyi telapak sepatu orang di luar.Baru saja Poniem hendak menjawab, Leman telah masuk kedalam.

“Mengapa ribut-ribut, tidakkah malu. Hai Poniem bukankah kau yang tua, tidakkah malu berbuat demikian ? Mariatun….. Hai,mengapa suara mu saja yang kedengaran dari tadi di luar ? Mengapa kau bercakap begitu keras ? Tidak saya sangka perempuan sekolah akan begitu keras cakapnya.Mujur saya pulang lekas !”

Mariatun tidak menjawab. Dia lari saja ke atas loteng sambil menangis melulung-lulung. Sedang Poniem masuk ke dalam kamarnya dengan tenang, tetapi mukanya masih tetap merah. Hatinya belum lepas, perkataan Mariatun itu sangat tersangkut rasanya di dalam hatinya. Peperangan mulut itumula-mulanya masih asing. Tetapi apabila sekali terjadi tentu akan mulai biasa,sehingga akan terjadi setiap hari. Yang seorang berbenam di atas dan yang seorang bertekun di bawah. Atau bersidahuluan mengambil muka terhadap suami.Makanan sudah tidak teratur lagi. Masing-masing sudah berusaha mengadukanhalnya kepada suami. Yang lebih pandai menarik hati Leman dengan tangisnya ialah Mariatun.

Pada suatu hari terjadi pula perselisihan sepeninggalLeman pergi ke Medan. Ialah perselisihan yang paling hebat. Leman akan kembali dari Medan pukul empat sore, nasi belum masak. Mariatun ikut ke muka berjualan bersama Suyono, hati Poniem sakit benar melihat perbuatan itu. Dia yang merasa berhak keluar berjualan, sebab modalnya separo daripada penjualannya itu menurut kenyakinannya, dan Mariatun hanya orang datang kemudian. Padahal sudah sekian lama dia saja yang banyak berbenam di dapur. Dia bukannya babu. Sudah dua tiga kali Suyono memperingatkan bahwa Mariatun lebih baik di belakang saja,tetapi dia tidak perduli. Orang membayar uang dia yang menerima, dia yanghendak menutup dan membuka laci. Sedianya hal ini tidaklah akan kejadian kalau Leman pandai mengurus dan mengatur. Satu kali yang mula-mula, seketika Mariatunmencoba mendekati tempat itu tidak dilarangnya, dia tersenyum saja. Sejak itulah terbiasalah dia dan bukan saja terbiasa lagi, melainkan merasa bahwa diatelah diberi hati. Padahal Poniem meskipun merasa lebih berhak mendekatipenjualan itu, sejak mereka serumah sengaja dikuranginya. Kini Mariatun rupanya yang hendak mengangkat dirinya jadi kasir, padahal dia istri muda. Hatinya tidak tahan. Dia keluar. Dari dalam dadanya sudah sangat menyesak. Dia berkata:

“Hai puteri kayangan, janganlah berdiri juga di muka,coba-cobalah membuat sambal”.

Disinipun terjadilah pertengkaran yang sengit sekalilagi.

“Engkau saja yang selalu hendak sebagai tuan disini,suami ku sendiri tidak mau melarang aku”. Kata Mariatun.

“Apa gunanya pandai melipat kain, kalau tidak pandai mericih bawang ?” Tanya Poniem, yang telah mulai mangkal hatinya.

“Suka hati ku, aku di atas harta benda suami ku. Akukemari di antar ninik mamak ku, engkaukan babu di sini.
Aku akan menolong suamiku berniaga. Kami orang sekampung, sehalaman, bukan macam kau”. Perkataan itulah yang ditunggu oleh Poniem, karena dahulu belum dibalasnya.

“Engkau memang tidak tahu diuntung, dan tidak suka bertanya ke kiri dan ke kanan. Tidakkah kau tahu bahwa engkau dibeli maka bisakemari ? Tidakkah engkau tahu bahwa segala barang yang terkedai ini tidak ada dari harta benda mu yang datang kemari dan tidak pula dari harta benda suami muitu ? Tidakkah engkau tahu bahwa gelang ku, subang dan segala perhiasan intan berlian ku dahulunya yang di jual dan digadaikan untuk menegakkan perniagaanini, sehingga suami mu yang dahulu hanya berjualan dipunggung sudah bisa membuka kedai ? Engkau hinakan orang Jawa ? Mana engkau bisa hidup, mana tanganmu bisa berlilit emas kalau bukan orang Jawa ini, anak sombong ! Engkau katakan engkau senegeri dengan suamimu. Ya begitulah perempuan orang Padang,mata duitan. Dahulu seketika suami ku itu melarat di rantau ini, haram kalian hendak ingat kepadanya atau hendak meminta pulang. Seorang pun haram orang perempuan Padang yang sudi kepadanya sampai dia seakan-akan terbuang.Sekarang setelah terdengar dia kaya dan kekayaannya itu dari gelang ku, dari subang dan dukuh ku, barulah engkau katakan sekampung, berninik mamak. Ninikmamak orang Padang hanyalah uang, kau tahu ? Adat ! ? Sedikit-sedikit kami beradat. Sombong ! Apakah engkau kira kami yang bukan orang Padang tidak beradat ? Ya, itulah macam adat. Kalau kelihatan orang kaya yang mampu dan senang hidupnya dengan istrinya, semuanya hendak memeras dan semuanya hendak merampasnya menjadi suami. Itulah adat orang Padang…… Cis ! tak usahlah upik,tak usahlah kau perlihatkan adat Padang kepada ku, aku sudah tahu, semuanya.Kau datang kemari dengan mamak mu dengan ibu mu. Semuanya pulang kembali,ongkos pulang balik mesti suami mu yang menanggung, belikan pula kain bajunya.Itulah adat mu yang engkau puja-puja itu, dan itulah alamat berninik bermamak,semuanya hendak menghabiskan dan hendak mengupas kulitnya, memakan dagingnya dankalau boleh hendak mengertuk tulangnya sekali. Adakah kau datang kemari hendak membelanya ? Tidak ! Engkau hendak membelanya, engkau bukan hendak menolongnya tetapi hendak menggolongnya.Katakan juga beradat negeri mu itu ! Saya sudah tahu engkau mengharapkandibelikan sawah, dibuatkan rumah dan dibelikan gelang emas berlian, beli kainsepuluh peti. Sampai nanti kering suami mu itu dan kalau dia telah kering,sehingga kembali pula merantau dengan kemelaratannya, engkau akan minta talakdan minta cerai. Sebab engkau masih muda, dan engkau cari pula laki-laki lain,di negeri mu seorang perempuan yang beradat boleh berganti janda sepuluh kalisetahun ! Bukan aku yang menumpang disini, upik, engkaulah yang menumpang…….”.

Dia ketika berbicara itu tegak dengan gagahnya dan mulutnya sebagai air hilir, matanya berapi-api, hilang pertimbangan dari hatinya.

Mariatun hendak mencoba juga menjawab tetapi mulutnyatelah terkunci. Dan Poniem masih menunggu kalau-kalau “musuhnya” itu masih menjawab.

Suyono hanya diam di luar saja sambil menekur mengenangkan rumah tangga yang dahulunya surga itu, sekarang telah menjadi neraka.

“Jawablah. Cobalah jawab kalau kau bisa !” Kata Poniem,pati madunya itu, dicobanya hendak menarik rambut dan menggigit badannya tetapi sebaik dia datang, Poniem telah bersiap menunggunya dengan tangkasnya. “Oh,engkau akan mencoba mencekikku. Tidakkah engkau ingat lagi perkataan mu tadi, bahwasanya bagiku nyawa ini hanya murah saja, bukankah aku ini hanya perempuankontrak ? Jiwaku lebih murah daripada jiwamu !”

Hampir terjadi pergumulan hebat, tetapi sebaik hendak bergumul selekas itupula Suyono datang memisahkan. Tangan Poniem dipegangnyakuat-kuat : “Yu……. Eh Yu, mengucaplah. Apa namanya perbuatan ini ? ditariknya tangan Poniem kuat-kuat, seakan-akan dilemparkannya ke pintu kamarnya. Dan Mariatun sebelumnya terpegang pula, telah berlari naik ke loteng. Disana dia menangis sekuat-kuat hatinya sambil dibuah-buahilah dengan ratap,mengulang-ulang caci maki Poniem itu.

“Orang menumpang rupanya kau disini Mariatun, orang hina kau kiranya. Adat negerimu dihinakan orang Mariatun. Dituduh orang mamak dan ibumu lobak tamak…”. Dan banyak lagi yang lain buah ratapnya.

“Kira-kira pukul empat sore Leman telah pulang, didapatinya Suyono termenung saja disudut kedai. Mata orang kiri kanan lainsaja melihat kepadanya. Dia terus ke belakang. Didapatinya wajah Poniem muram saja. Dicobanya menanyai, Poniem hanya menjawab : “Istri abang yang cantik molek itu amat benci melihat orang Jawa buruk ini masih disini juga”. Leman menggeleng-gelengkan kepala lalu dia naik ke loteng. Didapatinya Mariatun sedang bergulung-gulung dengan bantal, tangisnya diperjadi-jadinya kembali,padahal tadi sudah reda. Baru saja Leman duduk didekatnya, dia menggarung seraya meratap : “Antar saya pulang kekampung. Saya membuat susah istrimu saja.Hidup senang dengan dia, telah menjadi kusut lantaran saya. Antarkan saya pulang !”

“Ah, ada-ada saja, kalian semuanya bodoh-bodoh.Semuanya tidak tahu diuntung. Nanti kalau saya tidak tahan lagi keduanya saya tempeleng, atau keduanya saya usir dari sini seperti mengusir anjing. Membuat pusing, membuat malu dengan orang kiri kanan”. Ujar Leman. Dan dengan marah dia turun ke bawah dan begitu pula perkataannya kepada Poniem.

Tetapi sejak itu mulailah dirasanya sudah memikirkan hal ini. Mulailah sudah ada sesal, mulai ada keluh dan sudah ada dia termenung.

MERANTAU KE DELI, oleh Buya HAMKA (Bagian 9 : PERKAWINAN)

Orang kiri kanan sudah tahu bahwa istri Leman yang muda akan datang. Dia menyewa rumah tempat tinggal untuk istri yang muda itu sebuah lagi. Dengan bersusah payah dia dengan istrinya Poniem, membersihkan rumah yang baru disewaitu. Orang heran dan takjub serta menaruh hormat yang sebesar-besarnya atas ketulusan hati Poniem, yang selama ini hanya di sangka orang perempuan pelembahan yang tak ada harganya. Orang menekur kepala kepadanya melihat wajahnya yang tiada berkucak !

Bagaimana dia akan berkucak, padalah maksud suaminya akan langsung juga. Meskipun sudah seberat bumi dan langit sumpah suaminya, baginya semuanya itu belum berarti. Cuma sebagai orang yang lama menderita pahit hidup, dicobanyapula menyeberangi cobaan yang sekali ini, mudah-mudahan selamat. Di dekat suami dia tertawa, tersenyum, bekerja dengan keras, ditolongnya menjahitkan kelambu, merekatkan kertas ke dinding.

Kelak bila suaminya pergi ketempat lain untuk menyediakan keperluan “tetamu” baru itu, dan dia hanya tinggal seorang diri, dilepaskannyalah kembali air matanya.

Hari yang sudah ditunggu-tunggu itupun datanglah, yakni hati yang ditunggu oleh Leman dengan harap cemas, dan ditunggu oleh Poniem dengan dada berdebar. Mereka telah pergi ke setasiun menjemput “orang baru”itu, yang datang diantarkan oleh mamaknya. Rasa akan terjatuh Poniem ketika melangkahkan kakinya turun tangga.

Gelap penglihatannya dan keluar keringatnya,payah benar dia menahan hati. Tetapi itulah masanya perang, masa berjuang. Ditegapkannya kembali langkahnya, disekanya keringatnya dan dimakannya sirih, diapun langsung bersama suaminya pergi ke setasiun.

Kereta Api belum lagi masuk. Leman hilir mudik saja di peron sambil melihat-lihat jam, mencocokkan jam itu dengan tarif kereta apilagi beberapa menit. Poniem melihat gerak suaminya dengan hati yang lintuh. Diatidak bergaya lagi. Tiba-tiba terdengarlah bunyi peluit dari jauh dan terdengar pula bunyi desas desus lokomotif yang membawa, dan tidak berapa lamakelihatanlah kereta apinya sendiri. Sebanyak desus dan lengking lokomotif,sebanyak itu pula debar jantung Poniem menunggu orang yang akan merampas keberuntungan dan hikmat hidupnya dari tangannya sendiri.

Siapakah dia, bagaimanakah bentuk dan rupanya, orangyang beroleh kemenangan itu, orang yang akan merampas, singgasana yang dibinanya dengan aman sentosa sekian tahun lamanya ?

Kereta api telah masuk, tetapi Poniem masih duduk,akalnya seakan-akan hilang, pikirannya menjadi tumpul.

“Ayoh, Yem, kereta api telah masuk !” ujar Leman.Ujaran itulah yang menyadarkannya dan membangkitkannya dari tempat duduknya.

Bersamaan dengan orang banyak, turunlah Mariatun diiringkan mamak dan ibunya, bersama dengan salah seorang famili yang perempuan dari pihak Leman. Laksana seorang raja yang menang dari medan perang dan pulangdengan kebanggaan, demikianlah rasanya Mariatun menginjakkan kakinya ke lantai peron setasiun dari kereta api. Dia turun kebawah dengan kemalu-maluan, Lemanpun datang menyongsong, dibelakangnya mengiring Poniem. Mata orang banyak, mata mamak Mariatun, ibunya, famili Leman dan kaum kerabat yang lain, semuanya tertuju kepada Poniem saja. Leman kelihatan gugup. Dengan tiada gugup sedikit juga, Poniem tampil kemuka, dijabatnya tangan Mariatun dan dipeluknya perempuan muda itu dengan tersenyum gembira : ”Selamat didalam perjalanan Dik,” ujarnya.

Setelah keluar perkataannya yang sedemikian barulah nafas orang yang melihat yang tadinya tertahan, berjalan tenang kembali. Lemankeluar keringat dingin di dahinya. Sekarang pindah pula penglihatan orang ramai kepada Mariatun, gugupkah dia ketika disambut oleh Poniem. Orang banyak hendak membanding manakah yang lebih tinggi budinya antara perempuan berdua itu.

“Selamat mbak Ayu, tidak kurang suatu apa ! mbak Ayu adakah selamat saja ?”

“Insya Allah,” jawab Poniem.

Maka seakan-akan berbimbingan tangan mereka itu meninggalkan setasiun. Yang lain mengiring di belakang sambil bercengkrama,hanya seorang saja yang tak tentu apa yang akan dikerjakannya seketika itu, yaitu Leman. Dia tetap gugup sebentar-sebentar dikeluarkannya sapu tanganya darisakunya dan disekanya peluh yang mengalir dikeningnya.

Setelah berjalan kira-kira berjalan lima menit darisetasiun, bertanyalah seorang yang menjemput tadi : “Kemana tetamu kita akan kita bawa ?”

Mendengar pertanyaan itu Leman kembali tersadar dari kegugupannya. Dia terkejut dan berkata : “O, iya….. ya, ru…. Rumah telah disediakan, kesana kita pergi ! marilah’. Katanya sambil berjalan agak termuka.

“Tidak”, kata Poniem : “Bawa pulang dahulu, lepaskan lelah di kedai dahulu. Sementara adik Mariatun dan kakak serta mamak melepaskanlelah, kita suruh si Suyono membersihkan disana melengkapkan apa yang kurang. 

Sekarang kita pulang dahulu !”

Dia melihat kepada suaminya dengan sudut mata, sebagai menunjukkan marah. Leman hanya menekur saja. Anjuran Poniem lah sekarang yang diikut.

Perjalanan diteruskan ke kedai. Rupanya tikar telah dihamparkan terlebih dahulu di Loteng, minum-minuman telah disediakan. Di ajaknya Mariatun berseda gurau, ditunjukkannya budi bahasanya yang tinggi di hadapan ibu Mariatun dan ditunjukkan penghormatan yang tidak dibuat-buat di hadapan mamak Mariatun. Sehingga kelihatan seakan-akan tidak sedikit juga tergoncang hatinya lantaran kedatangan madunya itu. Setalah selesai minum sekadarnya, barulah dilepasnya Mariatun ke rumah yang baru.

Remuk, bagai kaca terhempas ke batu rasa hati Poniem;sakit, tetapi kemana akan dia adukan. Telah lepas segala mimpinya sudah tamat cerita keberuntungannya. Dia cantik, lebih muda, tangkas dan sekampung pula lagi. Jauh banyak kelebihan Mariatun dari padanya. Sedang dia hanya sebatangkara di dunia ini. Hanya suaminya itu selama ini tempatnya berlindung. Sekarang kemana lagi. Hati suaminya separo, bahkan sama sekali tentu akan tertumpah kepada perempuan itu. Banyak terdapat sebab-sebab yang akan menjadikan perkisaran itu. Sebagai seorang yang telah dijatuhkan vonis kematian atau buang pulus seumur hidup, yang terkurung didalam tembok yang tebal, menunggu pengawal yang akan membawanya ke tiang gantungan, tidak berdaya lagi, sehingga putuslah segala tali hidup dan hilanglah segala pengharapan, berganti dengan tawakal menyerah, menunggu takdir apapun yang akan datang, demikian Poniem pada masaitu. Sebab itu dia tidak akan menangis lagi, tidak ada perlunya lagi air mata.Dia tidak akan melawan nasib. Tidak ada kemenangan yang akan didapatnya lantaran melawan, dia hanya akan menyerah. Demikian janji yang telah dibuatnya dengan hatinya sendiri.

Dia tersenyum, dan untuk menghilangkan gundah gulana yang terbayang dimukanya, dimakannya sirih sebanyak-banyak, padahal selama ini dia kurang suka memakan sirih. Kalau suaminya datang diterimanya dengan hormat,melebihi biasa. Sehingga lantaran itu Leman bertambah serba salah. Waktu inilah telah dapat dibuktikannya siapa Poniem.

Telah dua hari Mariatun datang dihari ketiga dilangsungkanlah pernikahan, dan pada malam itulah Leman akan pergi kerumahbaru, melangsungkan akad nikah. Waktu itulah akan dimulainya penghidupannya yang baru dengan Mariatun. Hari ketika itu kira-kira pukul sepuluh malam,kendaraan tidak banyak lalu lintas lagi didepan rumah, dan dari pukul tujuh habis magrib kedai telah di tutup oleh Suyono, orang gajian yang setia itu.Makanan dari tadi sudah terhidang, tetapi Leman tidak mau makan, Poniemsendiripun tidak, sehingga nasi yang telah lama dihidangkan dimeja makan, masih bertungkup dengan tudung saji, tidak ada satu tangan pun yang menjamahnya.

Hawa malam yang sejuk dari pertengahan bulan Desember menyelinap segala tulang sumsum. Angin sepoi-sepoi basah meliputi alam dari pegunungan Brastagi. Ketika itu Leman masih mondar-mandir di dalam kedai,Suyono duduk diluar diatas bangku kecil sambil termenung Poniem duduk bertopang dagu pada meja makan didekat hidangan yang telah dingin itu.

Tak ada seorang juga yang berkata, hening semata. Leman masih mondar-mandir. Tidak tentu sikap apa yang akan diambilnya. Berat hatinyahendak meninggalkan Poniem terkatung-katung seorang diri. Dia masih mondar-mandir !

Seorang anak kecil kedengaran dari muka kedai, datang dengan tergesa-gesa menjemput Leman. Dia disuruh oleh famili disana, tetamu telah gelisah menunggu, tuan ghodi tidak bisa menanti lama. Segeralah datang !Kawan-kawan yang akan jadi teman di jalanpun telah berdirian pula disana,dimuka. Leman masih mondar-mandir juga.

Ajaib hati perempuan ini !

Dia tidak suka ditipu, tidak sudi dipermainkan.Cintanya kepada orang lain, adalah berarti cinta terhadap dirinya sendiri.Tetapi didalam jiwa yang tegang yang keras, jiwa yang takut dikalahkan itu, adapula tersimpan satu mutiara yang bersih mulia, itulah dia perasaan keibuan.

Jika seorang perempuan mempunyai dua orang anak, yang seorang sehat dan seorang sakit, telah banyak uangnya habis mengobati, namun cintanya terhadap si anak tidak akan berobah, ciuman kepada sianak yang sakit akan lebih dahulu lekat dari kepada yang sehat. Hati yang demikian ada pada Poniem.

Diperhatikannya, memang suaminya sedang dalam kebingungan, tidak tentu sikap apa yang akan diambilnya. Dilihatnya sesal yang amat besar telah mempengaruhi hati suaminya. Sehingga langkahnya mundur danmaju. Mula-mula disangkanya itu Cuma main-main saja, tetapi kemudian dilihatnya wajah suaminya, tenang-tenang. Bukan main rupanya, tetapi sebenarnya.

“Berangkatlah Bang, mengapa abang lalai jua. Lekaslah,orang sudah payah menanti, suruhannya sudah datang”.
Mendengar perkataan istrinya yang sebagai perintah itu,tetapi penuh dengan perasaan welas asih, Leman tertegun dan dilihatnya mata Poniem tenang-tenang. Tiba-tiba dia berlari kepada istrinya. Satu perkataan dengan penuh cinta, dengan sesal, dengan rasa kekecilan diri, terlompat darimulutnya….. “Poniem”, dan kepalanya tiba sekali ke atas haribaan Poniem.

“Poniem, engkau marah kepada ku, ya ?”

Air matanya dengan tidak dirasanya, telah bercucuran dan dia menangis sebagai anak-anak layaknya.

“Engkau marah kepada ku”, ujarnya sekali lagi. Dan dengan tidak disadarinya pula, tangan Poniem telah menjalar diatas kepalasuaminya, diusap-usapnya rambut suaminya, yang dicintainya itu, yang semiang kelampun belum pernah hilang dari hatinya.

Pada saat itu, hilang kemarahan, lemah segala sendi anggota. Poniem telah mengalah.

“Tidak Bang, berangkatlah lekas, orang telah banyak menunggu, Yem tak marah”.

“Demi Allah. Yem, berat hatiku hendak meninggalkan engkau”, kata Leman pula, sedang kepalanya masih ditangkupkannya diatas haribaanPoniem. Dengan perlahan-lahan kepala itu diangkat oleh Poniem, disekanya airmata suaminya dengan ujung selendangnya, lalu diperbaikinya letak baju suaminya dan ujarnya : “Berangkatlah sekarang ! Habisilah perasaan itu abang. Jangandiperkesankan dimuka orang banyak. Tersenyumlah, tertawalah ! Cuma sebuah permintaan ku abang….., abang !” Tiba-tiba air matanya jatuh dan tangisnya menjadi pula.

“Secinta-cinta abang kepada istri muda abang, namun aku jangan abang ceraikan”.

“Sama-sama kita serahkan kepada Tuhan, Poniem”.

Maka mulailah Leman memakai pakaiannya, dan menukar bajunya yang telah basah oleh air mata, diletakkannya kaca mata berwarna.Setelah selesai sekali lagi dipeluknya istrinya, seakan-akan tidak akan dilepaskannya, dan dia pun pergilah.

Di muka kedainya telah menunggu beberapa orang kawan yangtelah sedia mengiringkan. Di sana telah cukup orang menunggu, tuan Qadhi telahb ersedia dengan kitab “khutbah nikah” nya, makanan telah terhidang. Di belakang, orang-orang perempuan telah bersedia pula menghiasi kamar dan memakaikan pakaian yang indah-indah keatas diri Mariatun. Gadis itu tahu goncangan apakah yang telah datang kerumah tangga perempuan lain lantaran dia.Dia hanya merasa beruntung karena telah tercapai apa yang di cita-citakannya. Tentu kelak beberapa lama lagi, tangannya aka berlilit dengan gelang emas, lehernya, dan penitinya dari pada paun Amerika dan kalau perlu gelang kaki, akan dibanggakannya ke hadapan kawan-kawannya di kampung, apabila dia pulang kelak.

Dia menekur-nekur saja, kemalu-maluan. Ketika mamaknya pergi ke belakang menanyai sukakah dia dinikahkan, karena disuruh oleh tuan Qadhi menanyakan, lama baru dia menjawab. Setelah suruhkan oleh perempuan-perempuan lain menjawabkan “suka”, barulah dijawabnya antara kedengaran dengan tidak.

Leman duduk saja dengan tenang. Qadhi telah melakukan ijab dan kabul, pernikahan telah langsung dan hidangangan pun dimakan orang.

Beberapa saat kemudian,tetamu-tetamu itupun pulanglah kerumah masing-masing dan penganten pun masuklah ke peraduan.
Baru saja suaminya pergi, Poniem masuk kembali ke dalam kamarnya. Di sana dihantamnya menangis sepuas-puasnya. Dia tidur terbaring, kadang-kadang menghadap kekiri dan kadang-kadang menghadap kekanan. Langkah Leman sejak meninggalkan rumah, sampai tiba di rumah Mariatun, sampai mengadakan ijab dan kabul, semuanya itu seakan-akan terdengar ditelinganya. Tiap-tiap diingatnya, air mata pun timbul kembali. Bertambah larutnya malam, bertambah matanya nyalang. Seperti terbayang diruang matanya bagaimana pertemuan suaminya dengan Mariatun, bagaimana perjumpaan dan tutur katanya. Segala keadaan ketikamula-mula bertemu di malam pertama dahulu, semuanya sekarang terbayang. Tentu tegur sapa, bujuk cumbu, pergelutan malam pertama dan perangai-perangai yang lain. Yang dahulu pernah dilakukan suaminya terhadap dirinya, sekarang ini dilakukannya pula kepada istri mudanya.

“Ya Allah, Ya Rabbi !” teringat olehnya itu, terlengking pula dia kembali menangis, sedu sedannya terdengar oleh orang sebelah menyebelah, kedengaran pula oleh Suyono dan dua orang temannya yang tidur didapur.

Sudah berkokok ayam tanda hari akan siang, barulah matanya terlayan-layan hendak tidur tetapi sedu sedannya belum juga berhenti.

Demikianlah yang di derita oleh perempuan itu, dan tanyailah tiap-tiap istri yang dipermadukan, bahwa demikianlah yang teringat pada hari pertama dari perkawinan suaminya dengan istrinya yang baru.

Benar jugalah perkataan Bagindo Kayo dahulu. Kalau hendak beristri seorang lagi, janganlah diperdulikan itu, jangan diperiksaiperasaan orang perempuan, pandang saja dia tidak manusia, tidak ada perasaan,dengan demikian akan berlangsunglah angan-angan kita laki-laki. Toh kita laki-laki, hendaklah kita mesti langsung, terbujur lalu terbelintangpatah.

MERANTAU KE DELI, oleh Buya HAMKA (Bagian 8 : SURAT DARI KAMPUNG)

Benarlah apa yang disangka Bagindo Kayo, bahwa Leman meminta berbicara dengannyaitu hanyalah semata-mata untuk menumpahkan perasaan hatinya yang sangat tertutup itu. Kalau tidak demikian, mengapa dia berdusta mengatakan bahwa surat itu telah lama dikirimkannya, sudah patutlah sampai di kampung, padahal baru hari itu masuknya ke pos.

Setelah lebih dari sepuluh hari ditunggu-tunggunya dengan dada berdebardan kadang-kadang timbul juga sesal dalam hati, datanglah opas pos mengantarkan sepucuk surat dari kampung. Surat itu dibukanya dengan tangan gemetar, dengan harap dan cemas, harap akan keuntungan yang terisi dalamnya dan cemas akan keadaan yang akan ditempuhnya. Isi surat itu menerangkan sudah dapat kebulatan,baik pihak Leman atau Mariatun. Mariatun akan diantarkan oleh seorang mamaknya ke Deli, dan pernikahan akan dilangsungkan di Deli saja. Mereka akan datang seminggu lagi.

Leman tersenyum membaca surat itu, tetapi lama-lama senyumnya terhenti dan dadanya berdebar kembali, memikirkan bagaimanakah dia akan menyampaikan hal itukepada Poniem ? Akan di sampaikan dengan terus terangkah ? Jika dia menyanggah,j ika dia melawan, jika dia tidak setuju dipermadukan ? Tetapi sebaliknya, jika dia tidak membantah, hanya air matanya saja yang titik bagaimana pulakah ?Tidak kah akan hiba hatinya melihat perempuan itu menangis ? Atau kejadian pula sebaliknya lagi, melepas dengan hati yang suci dan muka jernih, dia sukadipermadukan. Alangkah besarnya korban yang akan ditempuh oleh perempuan itu !

Hari telah dekat, seminggu lagi, dan besok harinya tentu sudah tinggalenam hari, setelah itu tinggal lima hari, tinggal empat dan seterusnya,Mariatun nyata akan datang, dimanakah akan diletakkan, kemana akan dibawa ?Akan di sembunyikan saja kah kepada istrinya yang tua ? Padahal tidak ada hal yang demikian yang akan dapat disembunyikan, apalagi di negeri kecil, apa akal?

Tinggal tiga hari lagi.

Maka di beranikannya saja hatinya. Kira-kira pukul sepuluh malam sebelum masuk tidur, diajaknyalah istrinya duduk bercakap-cakap.

“Poniem, kemarilah engkau duduk !”

Poniem duduk ke kursi dengan penuh kepercayaan dan tak menyangka apa-apa.

“Ada yang akan kanda bicarakan dengan engkau”.

“Apa kah agaknya ?” tanya Poniem dengan sedikit keheranan.

“Oh, ……. Ru…….. rupa-rupanya kakanda sudah di desakkan oleh orang kampung supaya….. supaya kakanda suka…… kawin seorang lagi ! Jadi….. sekarang ini sengaja kakanda hendak meminta fikiranmu, engkau ijin kan apa tidak ?”

Poniem masih menyangka bahwa suaminya hanya bermain-main saja. Lalu dengan cepat saja dijawabnya :

“Kawinlah seorang lagi, siapa pula yang melarang”,katanya tersenyum.

“Ini, …… ini cakap kanda ini, sebetulnya Poniem, tidak bersenda gurau. Orang kampung menyesakkan agar kawin seorang lagi. Mereka katanya hendak mengantarkan seorang perempuan kemari, tiga hari lagi akan menjadi istri kakanda. Sebab itu pada malam ini kakanda sebenarnya hendak meminta pertimbangan mu, engkau ijin kan apa tidak ?”

Melihat suaminya yang bercakap sungguh-sungguh itu,Poniem pun sebelum sanggup lagi menyambung pembicaraannya. Hanya dilihatnya saja muka suaminya tenang-tenang, seakan-akan dia tidak percaya, seakan-akan masih disangkanya bahwa percakapan itu hanya main-main belaka. Dilihatnya, lagi sekali dilihatnya dan ditatapnya muka Leman, bertambah di lihatnya mukalaki-laki yang laksana mengemis itu, teringatlah kembali sumpah yang di ucapkanLeman dihadapannya, ketika Leman mengajak lari kawin dahulu. Sumpah itu akan diberikannya seberat bumi dan langit, cuma Poniem juga yang menghambat. Itu kah laki-laki yang beberapa tahun yang lalu membujuk-bujuknya, mengatakan akan sehidup semati, yang kepadanya segenap kepercayaannya telah dilimpahkannya, bahwa dialah yang akan menjadi suami, jadi junjungan, jadi ganti ibu bapak. Sekarang di hadapannya pula dia sebagai mengemis-ngemis, mengatakan akan beristri seorang lagi, tiga hari lagi, dengan orang kampungnya sendiri, dan akan dibawa pula ke tempat tinggal dengan dia ?

Dia belum menjawab, karena belum percaya. Belumdisangkanya sedikit juga, laki-laki yang telah bertahun-tahun bergaul, yang telah sehidup semati, yang kepadanya segenap kepercayaannya, akan berputar haluan selekas itu.

“Bermimpikah saya” katanya dalam hatinya sambil menatapmuka suaminya juga. Dia masih tersenyum, tetapi matanya melihat dengan penuh keheranan.

“Bagaimana Poniem ?” tanya Leman dengan tiba-tiba, sehingga keheningan beberapa saat itu menjadi hilang dan Poniem terkejut.

“Akan… ber…. Beristri seorang lagi ?” tanyanya pula menegaskan.

“Iya !” jawab Leman, tetapi wajahnya tidak lagi sebagai pengemis, melainkan sebagai terbayang suatu pertentangan.

“Iya,……. Beristrilah, siapa pula yang melarang”, ujar Poniem pula. Tetapi nyata badannya gemetar dan dadanya berombak-ombak,seakan-akan ada seseuatu yang ditahannya. Dia segera berdiri dari tempat duduknya, dia hendak segera pergi ke tempat tidurnya. Tetapi dengan segera pula Leman memegang tangannya : “Duduklah dahulu Poniem, jawabmu itu belum memuaskan hatiku. Apakah engkau melepaskan aku beristri seorang lagi denganrela…. Dengan serela-rela hati mu ? Mengapa engkau berdiri saja sebagai merajuk, padahal selama ini belum pernah engkau berbuat begitu ? Sudah lebih lima tahun kita bergaul. Ijin kan engkau apa tidak ? Katakanlah terus terang Yem!”

Ditariknya tangannya sekuat-kuatnya dari pegangan suaminya, dan dengan segera dia pergi ke tempat tidur. Sampai di sana dihempaskannya kepalanya di atas bantal yang lunak itu. Di sanalah dilepaskannya segenap air matanya yang tertahan. Karena kekuatan orang perempuan dan persediaannya yang menghabiskan hanyalah air mata itu jua.

Leman termangu saja melihat. Dia heran mengapa begitu sifat istrinya, selama ini patuh menurut, tidak membantah, sekarang telah melawan. Dia hanya heran melihat perobahan istrinya, dia tidak heran bahwa selama ini hanya Poniem istrinya, sekarang hendak di dua kannya. Dia tidakheran akan perobahan haluannya sendiri.

Mula-mula dia berdiri kebinggungan. Sikap apakah lagi yang akan dilakukannya selihat istrinya menangkupkan mukanya keatas bantal danterus menangis terisak-isak. Mula-mula dia diam-diam saja, lalu dengan berangsur-angsur dia naik ketempat tidur. Sepicing matanya haram nak tidur karena fikirannya amat kusut mengahadapi langkah yang pertama ini,selintas-lintas mau juga fikirannya mengundurkan perkawinan yang kedua kaliitu, tetapi datang pula himpitnya : “Mana bisa. Orang telah bersiap di kampung dan akan datang segera. Hal ini bisa ku selesaikan”, katanya.

Kira-kira dua jam kemudian tidak kedengaran lagi tangisPoniem, meskipun bantal telah basah oleh air mata. Setelah nyata bahwa tangisitu telah undur, barulah Leman hendak memulai pembicaraannya kembali. Dan oleh Poniem sendiri rupanya masa yang dua jam itu telah digunakan untuk membulatkanhati dan fikiran, sehingga lantaran air mata sudah habis keluar, mudahlah menyusun kata. Dia menelentang kembali baik-baik, air matanya tak ada lagi.

“Sudah lepas terkejutnya Poniem ?” tanya Leman.

Poniem tidak menjawab, tetapi mukanya telah tenang kembali.

“Memang saya terkejut mendengarkan perkataan kakanda itu. Sudah lazimnya saya terkejut, karena tidak saya sangka-sangka bahwa Abang akan beristri seorang lagi. Masih rasa-rasa kemarin, saya mendengar Abang berjanji bahwa diri saya akan Abang pelihara betul-betul. Hati saya tidak akan Abang kecewakan. Hanya Abang tempat saya bergantung dunia akhirat. Ketika Abang hendak bersumpah, ku halangi, ku tegahkan”.

“Memang Abang pun ingat akan sumpah itu. Tetapibagaimanakah akal kita, orang kampung sangat keras meminta Abang supaya kawin seorang lagi. Kalau Abang tak mau, mereka katanya akan “berkerat-keratan rotan” dengan Abang, tidak akan mengakui bersaudara lagi”.

“Ah….. itu Cuma dalih saja, lain tidak. Karena hal itu putusannya hanya ditangan Abang juga. Abang seorang laki-laki, masakan ada orang lain yang akan menguasai kalau Abang tidak mau. Akan bersudah-sudah berfamili, akan berkerat-keratan rotan, kalau tak mau beristri seorang lagi,i tu Cuma cakap angin”.

Leman terdiam mencari jawab yang baru. Poniem menyambung pula :


“Adinda tidak susah atau marah kalau bermadu, akan berdua dalam rumah tangga ini dengan perempuan lain, apalagi perempuan itu lebih karib, sekampung sehalaman dengan Abang, sedang saya ini hanya orang jauh, orang lain”.

“Jangan begitu bercakap Poniem, maksud ku tidak sampai ke sana”, ujar Leman pula.

“Meskipun maksud Abang tidak sampai ke sana, tetapi kejadian telah menyampaikan ke sana”.

Leman termenung pula.

“Saya tak menghalangi Abang beristri seorang lagi,apalagi dengan orang kampung sendiri, lebih-lebih akan putus pula berfamili kalau saya halangi. Manakah saya bisa menghalangi. Lagi pula saya telah biasa bermadu.
Masa dalam tangan Mandor besar dahulu, enam orang madu saya. Dalam permaduan itulah saya Abang ambil”.

“Jadi apa yang engkau tangiskan tadi, kalau betul engkau sudi membiarkan kanda kawin seorang lagi ?”

“Oo, Abang ! banyak…… banyak sekali yang teringat olehku. Kian lama saya menangis, kian banyak yang terupa, sehingga air mataku jatuh tak tertahan-tahan. Pertama, sudah terbayang-bayang di muka saya bagaimana kesengsaraan yang akan kita tempuh, yang berat dan ringannya akan terpikul diatas pundak Abang sendiri. Akan sanggupkah Abang beristri seorang lagi ? Bukankah menurut adat kampung halaman Abang sendiri, sebagaimana adinda lihat sewaktu kita pulang, seorang laki-laki kemanapun dia merantau, maka hasil pencariannya itu mesti Abang cukupkan, apalagi hawa nafsu istri sendiri. Dia meminta sawah dan rumah, meminta perkakas gelang dan perhias-hiasan yang lain. Dan dia tidak akan tahu dari mana Abang memeras tenaga untuk keperluannya itu. 

Selama ini istri Abang hanya adinda seorang, dinda tidak mengharapkan uang atau harta benda Abang. Berilah adinda sehelai selimut penutup badan, berilah sepertegak kain penutup tubuh, beroleh nasi setempurung pagi setempurung petang, cukuplah itu bagi ku. Tetapi kalau Abang beristri seorang lagi, apalagi dia lebih muda, sekampung pula, Abang akan sengsara, percayalah ! Lain gayanya dinda lihat, berbeda benar tanggung jawab orang perempuan di negeri Abang dengan di negeri kami”.

Poniem terdiam dan Leman pun terdiam pula ! Dan sesaat kemudian Leman mulai pula bertutur : “Terasa oleh ku capak mu Poniem, sudah jauh engkau memikirkan, sedang kanda belum sampai kesitu”.

“Hendaknya kan sampai kesana di pikirkan !” jawabPoniem pula.

“Itulah kelemahan yang ada di diri ku, Poniem. Abang tak tahan mendengar bisik desus orang menurut orang kampung, walaupun kaya berlindak harta ku dan maju perniagaan ku, menurut langgam dan pandangan orang di kampung, Abang masih terpandang hina kalau belum memakai adat dalam kampung sendiri. Kata orang tua-tua dikampung ; beristrilah, berbinilah walau berapa suka, asal saja agak seorang ada di kampung sendiri. Tandanya awak ada berkaum famili, berkarib berbaid. Ku akui kelemahan ku terus terang, Poniem. Abang belum tahan mendengarkan itu. Apalagi sebelum itu kita bergaul, belum beruntung beroleh anak. Apakah yang akan ditunjuk-tunjuk oleh kaum kerabatku, siapakah yang akan dibawanya bertandang sebagai anak pisang[1]di kampung sendiri ? Inilah yang menimpa diriku kini, Abang harapkan benar supaya engkau jangan saja menunjukkan penyakit, tetapi mencarikan obatlah.

“Engkau hendaknya menolong Abang, mengetahui benar keadaan yang mendesak Abang kini, karena Abang percaya seberat-berat beban ku,semarah-marahnya engkau kepada ku, namun disudut hati mu masih ada rasa kasihan melihat keadaan ku ini”.

Poniem menangis mendengarkan rayuan suaminya : “Wahai Abang,kalau bukan kasihan kepada mu, apalah gunanya adinda menangis sekali lagi menangis, padahal sudah terlalu banyak air mata yang ku tumpahkan sejak gadisku, setitik pun belum ada yang membela aku dan memperbaiki nasib malang yang telah tertentu buat diriku”.

“Jadi kau ijinkan kah Abang beristri seorang lagi ?”tanya Leman.

“Dengar dahulu, itu baru yang pertama, yang kedua belum kakanda dengar”.

“Katakanlah Poniem, supaya hati kita sama-sama puas !”

“Ya yang kedua, dinda takut…..”

“Apa yang kau takutkan ?”

“Dinda takut, dinda takut….” Kata Poniem, dan dia pun tidak dapat pula menahan hatinya lagi, sekali lagi telengkupkannya pula kepalanya kebantal menghabiskan sisa-sisa air mata yang masih tinggal.

Leman kebingungan sampai Poniem mengangkat mukanya pula.

Beberapa saat kemudian dia berhenti menangis dandihapusnya air matanya dengan ujung selendangnya, yang belum juga ditanggalinya sejak dia menghempaskan dirinya yang pertama.

“Adinda takut kalau setelah mendapat yang baru, orangsekampung, perawan cantik, gadis jelita, adinda akan Abang pisahkan dan hindarkan dari sisi Abang yang telah menjadi tulang punggung ku. Bukankah bukit telah sama kita daki, lurah sudah sama kita turuni”.

“Abang tidak akan menganjur surut, percayalah ! jawab Leman.

“Pada mulut mu sekarang tentu dinda percaya”, ujarPoniem pula : “Tetapi keadaan yang akan datang, tidaklah dapat kitamenentukannya sekarang. Karena, apakah yang akan Abang harapkan lagi dari padaku, Abang akan mendapatkan yang baru, yang lebih cantik”.

“Tidak Poniem….. Demi Allah!”

“Sst, jangan bersumpah seberat itu”.

“Betul Poniem, yang lebih berat dari itu pun mau Abang bersumpah, asal engkau masih tetap setia kepada ku sebagai sekarang”.

“Adinda tidak akan berjanji dan bersumpah akan setia,Cuma keadaan yang sudah-sudah sajalah Abang buktikan bagaimana kesetiaan saya.Cuma adinda takutkan ialah Abang ceraikan. Perkara kasih Abang walaupun berpindah kepada yang muda, adinda tidak akan menyesal. Dimana pun di dunia ini, yang baru lebih menarik hati dari yang lama. Cuma itulah, sekali lagia dinda minta, walau bagaimana kasih Abang kepada istrimu yang muda kelak,  janganlah adinda diceraikan. Abang …..!Tidakkah Abang ingat, bahwa langkahku sesat, maka Abanglah yang telah membawaku kepada penghidupan yang lurus ; aku di dalam gelap hidup, Abanglah yang membimbing tangan ku kepada cayaha terang. Aku sekarang telah kenal kepada hidup berfamili. Famili Abang telah ku anggap famili ku, kampung Abang menjadikampung ku. Bagaimanakah nasib ku kalau Abang ceraikan pula. Alangkah gelapnyahari kemudian ku, langit manakah tempat ku berlindung, bumi mana tempat kuberpijak. Akan ku tuntut penghidupan yang lama, ke kebun ! Ya Tuhan ku !ampunilah hamba mu ini dan jauhkan lah aku dari sana. Sekali selendang ini telah lekat di kepala ku, teruslah hendaknya ku bawa masuk kubur ku, jangan sampai tanggal lagi”.

Dia termenung.

“Abang !” ujarnya lagi.

“Poniem !”

“Besar dosa mu di hadapan Allah kalau lantaran kasih muterhadap istri muda yang cantik itu kelak, aku Abang ceraikan. Dan jika aku mati,mengutuk arwah ku kepada Abang dari kubur ku !.

“Tidak, Poniem !”

“Benarkah tidak akan engkau ceraikan daku ?”

“Demi Allah ! keatas biarlah kanda tak berpucuk, kebawahtak berurat, kalau sekiranya engkau ku sia-siakan”. Dia gugup, sumpahnya benar berat, lalu di tukarnya dengan kata lain untuk peringankan sumpah itu : “Kecuali jika engkau yang tak setia kepada ku lagi”.

“Badan dan Nyawa ku serahkan, Abang …..”


==========
[1] Anak pisang disebutkan terhadap anak saudara laki-laki oleh saudara perempuan dan saudara perempuan ayah disebut bako.