Bagi bangsa Indonesia, tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu. Pada tanggal 22 Desember 1928 telah diadakan Kongres Perempuan Indonesia, menyusul Kongres Pemuda 28 Oktober 1928.
Apa pun latar belakang penetapan hari ibu itu, dengan adanya hari ibu, kita diingatkan akan penting dan mulianya peranan seorang ibu dalam melahirkan dan membesarkan kita anaknya. Bahkan sejak ibu kita hamil, kita sudah "menyiksanya".
Surga di bawah telapak kaki ibu
Kasih ibu sepanjang jalan
Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
Kami berempat telah ditinggal wafat ayahanda kami sejak tahun 1967. Waktu itu aku masih berumur 4 tahun. Bahkan sibungsu masih dalam kandungan ibunda.
Untunglah bunda seorang PNS (bidan), sehingga dengan status "single parent", bunda dengan penuh semangat membesarkan keempat anak laki-lakinya.
Tahun 1972 bunda menikah lagi, dan kemudian kami punya adik perempuan. Kami sangat gembira dengan kehadiran sang adek. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama, karenaa pada tahun 1983 sang adek menderita sakit ginjal dan berpulang ke rahmatullah. Aku yang lagi kuliah di Bogor kala itu, tidak sempat pulang kampung.
Tahun 1985 bunda bercerai, dan hingga kini hiduplah bunda seorang diri......
Setiap hati ku s'lalu berdoa, semoga Allah SWT memgampuni dosa-dosa bunda, dan semoga Allah SWT tetap memalihara buda sebagaimana bunda memelihara kami sewaktu kecil.
Apa pun latar belakang penetapan hari ibu itu, dengan adanya hari ibu, kita diingatkan akan penting dan mulianya peranan seorang ibu dalam melahirkan dan membesarkan kita anaknya. Bahkan sejak ibu kita hamil, kita sudah "menyiksanya".
Surga di bawah telapak kaki ibu
Kasih ibu sepanjang jalan
Kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya menyinari dunia
Kami berempat telah ditinggal wafat ayahanda kami sejak tahun 1967. Waktu itu aku masih berumur 4 tahun. Bahkan sibungsu masih dalam kandungan ibunda.
Untunglah bunda seorang PNS (bidan), sehingga dengan status "single parent", bunda dengan penuh semangat membesarkan keempat anak laki-lakinya.
Tahun 1972 bunda menikah lagi, dan kemudian kami punya adik perempuan. Kami sangat gembira dengan kehadiran sang adek. Namun kegembiraan itu tidak berlangsung lama, karenaa pada tahun 1983 sang adek menderita sakit ginjal dan berpulang ke rahmatullah. Aku yang lagi kuliah di Bogor kala itu, tidak sempat pulang kampung.
Tahun 1985 bunda bercerai, dan hingga kini hiduplah bunda seorang diri......
Setiap hati ku s'lalu berdoa, semoga Allah SWT memgampuni dosa-dosa bunda, dan semoga Allah SWT tetap memalihara buda sebagaimana bunda memelihara kami sewaktu kecil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Semangat pagi !