Telah beberapa bulan berlalu masa perkawinan. Bulan madu telah
tinggal menjadi bekas yang akan tertulis di dalam riwayat kedua suami
istri itu selama-lamanya. Sekarang mereka harus menempuh hidup.
Jika mula-mula rumah tangga itu berdiri, belum kelihatan kesulitan yang akan ditempuh. Tetapi setelah berlama-lama, kelihatannya; mulanya samar-samar dan kemudian bertambah terang juga, bahwa pergaulan mereka dalam rumah tangga belum begitu cocok. Kalau kelihatan manis yang sudah-sudah, barulah manis darah muda dan hati mulai naik, belum lagi manis sesudah menempuh kepahitan, yangselalu menyebabkan sebuah rumah tangga laksana surg di dalam hidup ini.
Yang menyebabkan rumah tangga itu belum juga teguh tegaknya ialah karena berlainan pertimbangan tentang hidup suami istri diantara orang Jawa dengan orang Minangkabau.
Menurut adat orang Minang di dalam negeri sendiri, yang memegang rumah tangga ialah si-isteri. Suaminya hanya “sumando”, artinya orang lain yang datang ke rumah itu lantaran dijemput menurut adat. Anak-anak yang lahir dari dari pergaulan itu, tidaklah masuk ke dalam suku ayahnya tetapi masuk suku ibu. Meskipun bagaimana lama pergaulan dan ke manapun mereka pergi merantau,namun isteri itu tidaklah jatuh ke dalam kuasa suami sepenuhnya.Kekuasaan itu tetap dalam tangan mamaknya juga.Sehingga kalau sekiranya si isteri itu melarat di rantau bersama suaminya, ada hak bagi mamaknya menjemput perempuan itu dan membawanya pulang ke kampung, biarpun suaminya tinggal juga di rantau.
Tetapi kalau isteri itu di bawah merantau, si suami merasa bahwa isterinya cuma menumpang saja, dan si isteri pun merasa bahwa dia hanya menurutkan orang lain. Karena harta benda suami itu menurut pandangan mereka, bukanlah kepunyaan rumah tangga mereka, tetapi di bawah kuasa kaum kerabat suaminya juga.Sebab itu perempuan-perempuan yang dibawa merantau itu kebanyakan hanyalah lantaran mengharapkan laba dan keuntungan yang kelak “diberi” laki-laki. Kalau mereka bercerai, perempuan itu tidak berhak mendapat bahagian dari harta pencarian si-suami, sebab harta pencarian itu bukanlah kepunyaan dan jerih payah mereka berdua.Si-isteri hanya sebagai tukang masak dan mengasuh anak. Biasanya suami dan orang-orang gajiannya membayar makan kepada perempuan itu. Kalau dia pandai menyimpan, dapatlah dia membeli kain baju atau menambahemasnya. Dan kalau dia bersembayan (bermadu), maka tiap-tiap habis gilirianmasing-masing dalam setahun, merekapun diantarkan pulang. Waktu itu segala barang-barang yang ada dalam rumah bukanlah kepunyaan suami, tetapi kepunyaan istri. Barang itu akan diangkatnya, sehingga senduk patah pun tidak akan ditinggalkannya. Dan kalau tiba pula giliran kepada istri yang seorang lagi, sebab mereka tidak akan merasa bahwa suaminya itu kongsi hidupnya, tetapi orang lain yang akan diperasnya kalau masih ada kekuatannya.
Nyatalah perbedaan pendapat diantara orang Minangkabau dengan orang Jawa di dalam pandangan hidup ini. Pandangan orang sama, suami dan istri itu adalah berkongsi hidup, sama-sama mencencang dan melatih, sama-sama berusaha. Segalahak milik adalah kepunyaan mereka berdua, sampai-sampai kepada rumah tangga.Sehingga kalau mereka bercerai, hak milik itu akan dibagi dua. Apabila seorangperempuan telah bersuami, tergantungan lahir dan bathin adalah suaminya. Diatidak akan memandang perbedaan hak di dalam rumah tangga, si suami menjadi pemimpin besar dan si istri menjadi pengemudi di dalam rumah.
Lantaran terpengaruh oleh adat terbiasa di dalam negerinya, maka Leman pun berniagalah, tetapi tidak dibawanya istri serta di dalam urusan itu.Istrinya tidak dibawanya berembuk, laba dan rugi tak usah istrinya tahu, istrinya hanya harus menerima yang ada saja. Buruk baiknya akan ditanggungkannya seorang. Padahal karena dia tidak mempunyai modal, apalagi ongkos sesudah kawin jauh lebih besar daripada ongkos sebelum kawin, maka perniagaannya yang kecil kian lama kian mundur, sehingga hanya tinggal bingkai-bingkainya lagi, ialah kain-kain dan barang-barang yang tidak akanlaku. Dia tidak mau menyatakan hal itu kepada istrinya, dia tidak mau hati istrinya susah lantaran itu. Sebaliknya karena perbuatan itu, si istri merasa hiba hati, sebab rupanya suaminya masih memandang dia orang lain, bukan istri sejati, tetapi istri yang hanya perlengkapan hidup dan untuk memagar supaya jangan jatuh ke lembah kesesatan saja. Kadang-kadang dia merasa sak wasangka, boleh jadi dia masih dipandang orang lain, sebab hal-hal yang sulit-sulit itu tidak disampaikan kepadanya. Kerjanya hanya bertanak, mencuci kain dan menyapu rumah. Pagi-pagi suaminya telah bangun dan pergi berdagang, sore atau tengah hari dia pulang. Kalau dia sedang duduk seorang dirinya di dalam rumah sepeninggal suaminya itu, kerap kali dia menangis, memikirkan kesucian dirinya.
Oleh karena kemunduran perdagangannya, Leman kerap kali pula mengeluh,menarik nafas sebagai orang yang terselat garam dalam giginya, sehingga Poniem menyangka kalu-kalau suaminya telah menyesal beristrikan dia. Oleh sebab itu tidaklah heran kalau rumah tangga yang mula-mulanya permai itu kian lama kian muram cahayanya. Poniem tak dapat menahan hatinya lagi !.
Pada suatu malam, sedang suaminya pergi berziarah ke rumah seorang temannya, dengan diam-diam dibukanya bungkusan dagangan suamin yaitu, rupanya sudah “kurus” betul, itulah rupanya yang selalu menyebabkan kesusahan yangselalu terbayang dimuka suaminya yang di cintainya itu. Ditutupnya kembali bungkusan itu baik-baik, disediakannya makanan untuk suaminya dan ditunggunya dia pulang dengan sabar.
Tidak berapa lama kemudian, suaminyapun pulanglah. Merekapun makanbersama-sama. Meskipun sedang makan itu Leman tersenyum-senyum juga, jelas kelihatan bahwa senyuman itu dibuat-buatnya, bukan senyuman dari hati,pikirannya kelihatan tertumbuk, terbayang di mukanya; “kalau hati duka di bawa gelak, tak obahnya seperti panas mengandung hujan”.
Sehabis makan dia duduk pula bermenung. Waktu itulah masa sebaik-baiknya dipandang Poniem untuk memulai pembicaraannya.
“Mengapa abang susah saja ? mengapa abang bersembunyi juga kepadaku ?” tanyanya dengan tiba-tiba.
“Tidak Poniem, tidak ada yang ku susahkan, bagaimana abang akan susahpadahal engkau ada di sampingku !”
“Abang susah, aku tahu. Selama ini abang bersembunyi-sembunyi saja,abang berdua hati terhadap kepadaku”.
“Tidak benar persangkaanmu itu Poniem, hati abang tulus kepadamu luardalam, dahulu dan sekarang, dan selamanya tidak akan berobah, entah kalau engkau sendiri yang berobah”.
“Abang masih kelihatan merahasiakan sesuatu kepada ku, ada sesuatu halyang menimpa diri abang, tetapi abang sembunyikan. Lebih baik abang nyatakan kepadaku, supaya dapat kita bermufakat bagaimana baiknya. Karena kalaukesusahan abang itu bertambah berat juga, setelah diakhir baru abang baru tahu,tentu sesal kita tidak akan berkeputusan, padahal agaknya masih dapat kita cari jalan yang lebih baik……”.
Meskipun sebagaian sebab itu telah diketahuinya, tetapi Poniem berbuat sebagai tidak tahu, supaya kepercayaan suaminya jangan hilang.
“Terangkanlah abang, apakah abang susahkan..?” katanya lagi. Karena terdesak oleh istrinya yang dicintainya itu, dia tidak dapat bersembunyi lagi.
“Begini Poniem. Modal kita amat kurang, pekerjaan payah, padahal labanya tidak ada. Kemanapun abang pergi, kurang sekali jual beli. Apalagi jenis barang yang di jual tidak selengkap pada orang lain, maka kitapun tidak dapat memulangkan pokok. Abang coba mengambil barang amanat dari lain saudagar, karena akan membeli sendiri ke toko yang besar di Medan, kita belum sanggup, maka barang yang diambil di bawah tangan itupun amat tinggi harganya. Ketikaditawar orang barang-barang kita kerap kali barang itu belum bisa dilepaskan karena baru mengenai pokoknya waktu di ambil dengan amanat, padahal orang yang berkedai di sebelah kita, jika menjual sebanyak ditawar orang kepada kita tadi,sudah dapat mengambil laba. Kalau diperturutkan berlarut-larut, kesudahannyamaulah badaman[1]dan tali saja yang pulang. Itulah yang selalu menyebabkan abang termenung”.
“Mengapa tidak sedari dahulu abang terangkan sebab-sebab itu kepadaku?”.
“Abang takut nanti engkau akan menderita pula lantaran kesusahan itu”.
“Bukankah itu kesusahan kita bersama?”
“Tidak Poniem, itu Cuma kesusahan seorang laki-laki, orang perempuan tidak boleh memikul susah pula”.
“Itu tidak lurus abang, kesusahan ini mestilah kita pikul berdua.Bukankah dahulu, sebelum abang mengambil aku menjadi istri abang, abang hanyamenyusahkan perut seorang, menyusahkan kain baju seorang, sehingga penjualberkecil-kecil telah mencukupi. Sekarang kita telah berdua, abang menghabiskankekuatan sendiri untuk pikulan berdua, itu tidak adil !” Leman melihat istrinyatenang-tenang.
“Adat kami Poniem, menurut adat kami orang perempuan harus tahu beressaja. Orang perempuan hanya menerima yang bersih, dia tidak perlu menghiraukan kesusahan suaminya, yang perlu baginya hanya menanakkan nasi supaya suaminyajangan lapar, menyediakan teh, dan mencucikan kain bajunya. Kerja laki-laki mencarikan buat dia, membuatkan rumah, mencarikan tambahan sawah ladangnya.Kalau pekerjaan itu hasil dia boleh pulang dengan bangga, kalau tidak, dia akanpulang juga dan suaminya akan terus berusaha, dia akan pulang oleh karena dijemput oleh mamaknya”.
“Kalau begitu tentu hati abang masih berparo, abang masih ingatpenghidupan cara dikampung abang sendiri. Ibarat orang memberi belumlah abangmemberikan kesemuanya, tetapi masih setengah-setengah. Sekarang abang beristriorang lain, dan orang lain itupun telah menyerahkan dirinya bulat-bulat kepadaabang. Tidak ada tempatku menumpangkan diri lagi melainkan abanglah; ibu-bapakku, kaum kerabatku, tidak ada lagi. Maka menurut pikiran saya yang bodohdunggu ini, penghidupan yang kita cari, hendaklah untuk berdua. Barang-barang kepunyaan kita, harta benda kepunyaan berdua. Kita kerjakan masing-masing menurut kekuatan kita, dan hasilnya kita makan berdua, kita sisakan berdua”.
Leman termenung mendengarkan. Dan Poniem lalu menyambung bicaranya pula:
“Lantaskan angan abang meneruskan perniagaan itu jika kita tambahmodalnya?”
“Lantas benar”. Jawab Leman dengan muka muram karena modal itulah yangtak ada.
Mendengar itu muka Poniem kelihatan berseri. Dengan langkah yang lambat dia masuk kekamarnya dibukanya peti dan dikeluarkannya beberapa buah peniti kawat dalam. Leman melihat saja dengan tercengang. Setelah itu dibukanya sebuahdemi sebuah peniti ringgitnya yang ada didadanya, sehingga tanggallah dari dadanya satu persatu yang digantikannya dengan peniti-peniti kawat itu. Dibukanya pula kalung ringgitnya yang berantai emas yang berat. Kemudian itu dibukanya pula gelang kakinya. Sehingga yang tinggal hanya sepasang subangnya saja lagi. Semuanya itu diletakkannya di atas meja, dan dia pun berkata :
“Abang……! Perniagaan kita harus diperbesar segala barang-barang ini kita jual kembali kepada saudagar emas, kita jadikan uang. Dengan barang ini kita berniaga, kita perbaiki perdagangan kita. Jangan abang pandang juga aku sebagaimemandang istri dari kampuang abang sendiri, yang hidupnya senang dan sawah ladangnya banyak, yang cukup kaum kerabatnya. Mari kita hidup…… berdua…..tumpahkan kepercayaanmu kepada ku, kepercayaan yang tiada berkulit dan berisi,kepercayaan yang tulus, sebagai kepercayaanku pula terhadap abang. Pakailahbarang ini, perniagakanlah, dia adalah hak milikmu, sebagai diriku sendiri pun hak milikmu juga”.
“Poniem…….”. ujar Leman. Sedang air matanyapun tidak tertahan-tahanlagi.” Poniem, dengan apa jasamu abang balas..?”
“Janganlah berkata semacam itu, berniagalah terus……”.
Sejak
waktu itu, berubahlah keadaan. Hati yang masih ragu-ragu menempuh hidup,
sekarang sudah yakin. Kepercayaan yang tadinya setengah-setengah
darikedua belah pihak, sekarang sudah bulat dan tidak ada sak ragunya
lagi. Medan perjuangan pun terbukalah, tidak ada lagi lurah yang dalam,
bukit yang tinggi.Sebab kehidupan itu adalah laksana bahtera jua, si
suami adalah nakhoda, siistri juragan, dengan berdualah selamat
pelayaran itu.
Matahari pun terbitlah dari Timur, pancawarna megah membawa nikmat, angin sepoi-sepoi basah, udara pagi yang lembanyung meliputi alam. Malaikat yang bertahta diatas awan berarak, laksana tersenyum melihat makhluk keluar dari rumahnya masing-masing, mencari tutup badannya, mencari isi perut, mencari peruntungannya di bawah kolong langit yang luas terbentang ini.
Di antara beribu makhluk yang percaya akan kekayaan Tuhan, memang bumi membuahkan padi dan tanah menghasilkan emas, yang tidak putus asa, yang percayab ahwa selama nyawa dikandung badan, rezeki telah tersedia, adalah terdapat kedua suami istri itu, keluar dengan hati yang gembira, percaya akan pertolongan Tuhan, dan yakin perhubungan yang ada dalam sanubari mereka sendiri, yaitu cinta suami istri yang sejati..!
Majulah ke muka, tempuhlah lautan baharullah yang luas itu, beranikan hati menghadapi gelombang yang bergulung-gulung. Karena dengan bermain ombak dan membiasakan menempuh gelora itulah makanya penyakit mabuk laut akan hilang. Pada tiap-tiap bertemu dengan suatu kesusahan dan suatu halangan di dalambahtera rumah tangga, itu adalah ujian; bila sampai ke sebaliknya tertegakpulalah sebuah tiang yang tengguh dan sendi yang kuat, untuk membina rumahkecintaan itu. Dimanakah terletaknya keberuntungan kalau bukan di dalam hati ???
Bolehkah keberuntungan itu dinamakan kepada uang berbilang dan emasberkarung-karung ? Bukan, bukan dari sana asalnya mulanya, sebab banyak orang dilingkungi oleh kebahagian dunia, tetapi hatinya senantiasa kesal.
Jika mula-mula rumah tangga itu berdiri, belum kelihatan kesulitan yang akan ditempuh. Tetapi setelah berlama-lama, kelihatannya; mulanya samar-samar dan kemudian bertambah terang juga, bahwa pergaulan mereka dalam rumah tangga belum begitu cocok. Kalau kelihatan manis yang sudah-sudah, barulah manis darah muda dan hati mulai naik, belum lagi manis sesudah menempuh kepahitan, yangselalu menyebabkan sebuah rumah tangga laksana surg di dalam hidup ini.
Yang menyebabkan rumah tangga itu belum juga teguh tegaknya ialah karena berlainan pertimbangan tentang hidup suami istri diantara orang Jawa dengan orang Minangkabau.
Menurut adat orang Minang di dalam negeri sendiri, yang memegang rumah tangga ialah si-isteri. Suaminya hanya “sumando”, artinya orang lain yang datang ke rumah itu lantaran dijemput menurut adat. Anak-anak yang lahir dari dari pergaulan itu, tidaklah masuk ke dalam suku ayahnya tetapi masuk suku ibu. Meskipun bagaimana lama pergaulan dan ke manapun mereka pergi merantau,namun isteri itu tidaklah jatuh ke dalam kuasa suami sepenuhnya.Kekuasaan itu tetap dalam tangan mamaknya juga.Sehingga kalau sekiranya si isteri itu melarat di rantau bersama suaminya, ada hak bagi mamaknya menjemput perempuan itu dan membawanya pulang ke kampung, biarpun suaminya tinggal juga di rantau.
Tetapi kalau isteri itu di bawah merantau, si suami merasa bahwa isterinya cuma menumpang saja, dan si isteri pun merasa bahwa dia hanya menurutkan orang lain. Karena harta benda suami itu menurut pandangan mereka, bukanlah kepunyaan rumah tangga mereka, tetapi di bawah kuasa kaum kerabat suaminya juga.Sebab itu perempuan-perempuan yang dibawa merantau itu kebanyakan hanyalah lantaran mengharapkan laba dan keuntungan yang kelak “diberi” laki-laki. Kalau mereka bercerai, perempuan itu tidak berhak mendapat bahagian dari harta pencarian si-suami, sebab harta pencarian itu bukanlah kepunyaan dan jerih payah mereka berdua.Si-isteri hanya sebagai tukang masak dan mengasuh anak. Biasanya suami dan orang-orang gajiannya membayar makan kepada perempuan itu. Kalau dia pandai menyimpan, dapatlah dia membeli kain baju atau menambahemasnya. Dan kalau dia bersembayan (bermadu), maka tiap-tiap habis gilirianmasing-masing dalam setahun, merekapun diantarkan pulang. Waktu itu segala barang-barang yang ada dalam rumah bukanlah kepunyaan suami, tetapi kepunyaan istri. Barang itu akan diangkatnya, sehingga senduk patah pun tidak akan ditinggalkannya. Dan kalau tiba pula giliran kepada istri yang seorang lagi, sebab mereka tidak akan merasa bahwa suaminya itu kongsi hidupnya, tetapi orang lain yang akan diperasnya kalau masih ada kekuatannya.
Nyatalah perbedaan pendapat diantara orang Minangkabau dengan orang Jawa di dalam pandangan hidup ini. Pandangan orang sama, suami dan istri itu adalah berkongsi hidup, sama-sama mencencang dan melatih, sama-sama berusaha. Segalahak milik adalah kepunyaan mereka berdua, sampai-sampai kepada rumah tangga.Sehingga kalau mereka bercerai, hak milik itu akan dibagi dua. Apabila seorangperempuan telah bersuami, tergantungan lahir dan bathin adalah suaminya. Diatidak akan memandang perbedaan hak di dalam rumah tangga, si suami menjadi pemimpin besar dan si istri menjadi pengemudi di dalam rumah.
Lantaran terpengaruh oleh adat terbiasa di dalam negerinya, maka Leman pun berniagalah, tetapi tidak dibawanya istri serta di dalam urusan itu.Istrinya tidak dibawanya berembuk, laba dan rugi tak usah istrinya tahu, istrinya hanya harus menerima yang ada saja. Buruk baiknya akan ditanggungkannya seorang. Padahal karena dia tidak mempunyai modal, apalagi ongkos sesudah kawin jauh lebih besar daripada ongkos sebelum kawin, maka perniagaannya yang kecil kian lama kian mundur, sehingga hanya tinggal bingkai-bingkainya lagi, ialah kain-kain dan barang-barang yang tidak akanlaku. Dia tidak mau menyatakan hal itu kepada istrinya, dia tidak mau hati istrinya susah lantaran itu. Sebaliknya karena perbuatan itu, si istri merasa hiba hati, sebab rupanya suaminya masih memandang dia orang lain, bukan istri sejati, tetapi istri yang hanya perlengkapan hidup dan untuk memagar supaya jangan jatuh ke lembah kesesatan saja. Kadang-kadang dia merasa sak wasangka, boleh jadi dia masih dipandang orang lain, sebab hal-hal yang sulit-sulit itu tidak disampaikan kepadanya. Kerjanya hanya bertanak, mencuci kain dan menyapu rumah. Pagi-pagi suaminya telah bangun dan pergi berdagang, sore atau tengah hari dia pulang. Kalau dia sedang duduk seorang dirinya di dalam rumah sepeninggal suaminya itu, kerap kali dia menangis, memikirkan kesucian dirinya.
Oleh karena kemunduran perdagangannya, Leman kerap kali pula mengeluh,menarik nafas sebagai orang yang terselat garam dalam giginya, sehingga Poniem menyangka kalu-kalau suaminya telah menyesal beristrikan dia. Oleh sebab itu tidaklah heran kalau rumah tangga yang mula-mulanya permai itu kian lama kian muram cahayanya. Poniem tak dapat menahan hatinya lagi !.
Pada suatu malam, sedang suaminya pergi berziarah ke rumah seorang temannya, dengan diam-diam dibukanya bungkusan dagangan suamin yaitu, rupanya sudah “kurus” betul, itulah rupanya yang selalu menyebabkan kesusahan yangselalu terbayang dimuka suaminya yang di cintainya itu. Ditutupnya kembali bungkusan itu baik-baik, disediakannya makanan untuk suaminya dan ditunggunya dia pulang dengan sabar.
Tidak berapa lama kemudian, suaminyapun pulanglah. Merekapun makanbersama-sama. Meskipun sedang makan itu Leman tersenyum-senyum juga, jelas kelihatan bahwa senyuman itu dibuat-buatnya, bukan senyuman dari hati,pikirannya kelihatan tertumbuk, terbayang di mukanya; “kalau hati duka di bawa gelak, tak obahnya seperti panas mengandung hujan”.
Sehabis makan dia duduk pula bermenung. Waktu itulah masa sebaik-baiknya dipandang Poniem untuk memulai pembicaraannya.
“Mengapa abang susah saja ? mengapa abang bersembunyi juga kepadaku ?” tanyanya dengan tiba-tiba.
“Tidak Poniem, tidak ada yang ku susahkan, bagaimana abang akan susahpadahal engkau ada di sampingku !”
“Abang susah, aku tahu. Selama ini abang bersembunyi-sembunyi saja,abang berdua hati terhadap kepadaku”.
“Tidak benar persangkaanmu itu Poniem, hati abang tulus kepadamu luardalam, dahulu dan sekarang, dan selamanya tidak akan berobah, entah kalau engkau sendiri yang berobah”.
“Abang masih kelihatan merahasiakan sesuatu kepada ku, ada sesuatu halyang menimpa diri abang, tetapi abang sembunyikan. Lebih baik abang nyatakan kepadaku, supaya dapat kita bermufakat bagaimana baiknya. Karena kalaukesusahan abang itu bertambah berat juga, setelah diakhir baru abang baru tahu,tentu sesal kita tidak akan berkeputusan, padahal agaknya masih dapat kita cari jalan yang lebih baik……”.
Meskipun sebagaian sebab itu telah diketahuinya, tetapi Poniem berbuat sebagai tidak tahu, supaya kepercayaan suaminya jangan hilang.
“Terangkanlah abang, apakah abang susahkan..?” katanya lagi. Karena terdesak oleh istrinya yang dicintainya itu, dia tidak dapat bersembunyi lagi.
“Begini Poniem. Modal kita amat kurang, pekerjaan payah, padahal labanya tidak ada. Kemanapun abang pergi, kurang sekali jual beli. Apalagi jenis barang yang di jual tidak selengkap pada orang lain, maka kitapun tidak dapat memulangkan pokok. Abang coba mengambil barang amanat dari lain saudagar, karena akan membeli sendiri ke toko yang besar di Medan, kita belum sanggup, maka barang yang diambil di bawah tangan itupun amat tinggi harganya. Ketikaditawar orang barang-barang kita kerap kali barang itu belum bisa dilepaskan karena baru mengenai pokoknya waktu di ambil dengan amanat, padahal orang yang berkedai di sebelah kita, jika menjual sebanyak ditawar orang kepada kita tadi,sudah dapat mengambil laba. Kalau diperturutkan berlarut-larut, kesudahannyamaulah badaman[1]dan tali saja yang pulang. Itulah yang selalu menyebabkan abang termenung”.
“Mengapa tidak sedari dahulu abang terangkan sebab-sebab itu kepadaku?”.
“Abang takut nanti engkau akan menderita pula lantaran kesusahan itu”.
“Bukankah itu kesusahan kita bersama?”
“Tidak Poniem, itu Cuma kesusahan seorang laki-laki, orang perempuan tidak boleh memikul susah pula”.
“Itu tidak lurus abang, kesusahan ini mestilah kita pikul berdua.Bukankah dahulu, sebelum abang mengambil aku menjadi istri abang, abang hanyamenyusahkan perut seorang, menyusahkan kain baju seorang, sehingga penjualberkecil-kecil telah mencukupi. Sekarang kita telah berdua, abang menghabiskankekuatan sendiri untuk pikulan berdua, itu tidak adil !” Leman melihat istrinyatenang-tenang.
“Adat kami Poniem, menurut adat kami orang perempuan harus tahu beressaja. Orang perempuan hanya menerima yang bersih, dia tidak perlu menghiraukan kesusahan suaminya, yang perlu baginya hanya menanakkan nasi supaya suaminyajangan lapar, menyediakan teh, dan mencucikan kain bajunya. Kerja laki-laki mencarikan buat dia, membuatkan rumah, mencarikan tambahan sawah ladangnya.Kalau pekerjaan itu hasil dia boleh pulang dengan bangga, kalau tidak, dia akanpulang juga dan suaminya akan terus berusaha, dia akan pulang oleh karena dijemput oleh mamaknya”.
“Kalau begitu tentu hati abang masih berparo, abang masih ingatpenghidupan cara dikampung abang sendiri. Ibarat orang memberi belumlah abangmemberikan kesemuanya, tetapi masih setengah-setengah. Sekarang abang beristriorang lain, dan orang lain itupun telah menyerahkan dirinya bulat-bulat kepadaabang. Tidak ada tempatku menumpangkan diri lagi melainkan abanglah; ibu-bapakku, kaum kerabatku, tidak ada lagi. Maka menurut pikiran saya yang bodohdunggu ini, penghidupan yang kita cari, hendaklah untuk berdua. Barang-barang kepunyaan kita, harta benda kepunyaan berdua. Kita kerjakan masing-masing menurut kekuatan kita, dan hasilnya kita makan berdua, kita sisakan berdua”.
Leman termenung mendengarkan. Dan Poniem lalu menyambung bicaranya pula:
“Lantaskan angan abang meneruskan perniagaan itu jika kita tambahmodalnya?”
“Lantas benar”. Jawab Leman dengan muka muram karena modal itulah yangtak ada.
Mendengar itu muka Poniem kelihatan berseri. Dengan langkah yang lambat dia masuk kekamarnya dibukanya peti dan dikeluarkannya beberapa buah peniti kawat dalam. Leman melihat saja dengan tercengang. Setelah itu dibukanya sebuahdemi sebuah peniti ringgitnya yang ada didadanya, sehingga tanggallah dari dadanya satu persatu yang digantikannya dengan peniti-peniti kawat itu. Dibukanya pula kalung ringgitnya yang berantai emas yang berat. Kemudian itu dibukanya pula gelang kakinya. Sehingga yang tinggal hanya sepasang subangnya saja lagi. Semuanya itu diletakkannya di atas meja, dan dia pun berkata :
“Abang……! Perniagaan kita harus diperbesar segala barang-barang ini kita jual kembali kepada saudagar emas, kita jadikan uang. Dengan barang ini kita berniaga, kita perbaiki perdagangan kita. Jangan abang pandang juga aku sebagaimemandang istri dari kampuang abang sendiri, yang hidupnya senang dan sawah ladangnya banyak, yang cukup kaum kerabatnya. Mari kita hidup…… berdua…..tumpahkan kepercayaanmu kepada ku, kepercayaan yang tiada berkulit dan berisi,kepercayaan yang tulus, sebagai kepercayaanku pula terhadap abang. Pakailahbarang ini, perniagakanlah, dia adalah hak milikmu, sebagai diriku sendiri pun hak milikmu juga”.
“Poniem…….”. ujar Leman. Sedang air matanyapun tidak tertahan-tahanlagi.” Poniem, dengan apa jasamu abang balas..?”
“Janganlah berkata semacam itu, berniagalah terus……”.
Matahari pun terbitlah dari Timur, pancawarna megah membawa nikmat, angin sepoi-sepoi basah, udara pagi yang lembanyung meliputi alam. Malaikat yang bertahta diatas awan berarak, laksana tersenyum melihat makhluk keluar dari rumahnya masing-masing, mencari tutup badannya, mencari isi perut, mencari peruntungannya di bawah kolong langit yang luas terbentang ini.
Di antara beribu makhluk yang percaya akan kekayaan Tuhan, memang bumi membuahkan padi dan tanah menghasilkan emas, yang tidak putus asa, yang percayab ahwa selama nyawa dikandung badan, rezeki telah tersedia, adalah terdapat kedua suami istri itu, keluar dengan hati yang gembira, percaya akan pertolongan Tuhan, dan yakin perhubungan yang ada dalam sanubari mereka sendiri, yaitu cinta suami istri yang sejati..!
Majulah ke muka, tempuhlah lautan baharullah yang luas itu, beranikan hati menghadapi gelombang yang bergulung-gulung. Karena dengan bermain ombak dan membiasakan menempuh gelora itulah makanya penyakit mabuk laut akan hilang. Pada tiap-tiap bertemu dengan suatu kesusahan dan suatu halangan di dalambahtera rumah tangga, itu adalah ujian; bila sampai ke sebaliknya tertegakpulalah sebuah tiang yang tengguh dan sendi yang kuat, untuk membina rumahkecintaan itu. Dimanakah terletaknya keberuntungan kalau bukan di dalam hati ???
Bolehkah keberuntungan itu dinamakan kepada uang berbilang dan emasberkarung-karung ? Bukan, bukan dari sana asalnya mulanya, sebab banyak orang dilingkungi oleh kebahagian dunia, tetapi hatinya senantiasa kesal.
[1] Badaman = bungkusan kain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Semangat pagi !