Dua puluh dua tahun yang lalu, sebagai trainee di perkebunan kelapa sawit
swasta nasional di Riau, saya mewawancarai para pekerja kontrak, baik mengenai teknis
kerja mereka maupun tentang bayaran yang mereka peroleh. Hasil wawancara
tersebut saya tuangkan dalam laporan tertulis yang memang suatu
kewajiban bagi semua trainee.
Ternyata laporan saya mendapat
respons yang luar biasa dari General Manager. Pak GM langsung mengadakan
rapat mengundang para manager, asisten dan juga para trainee. Kenapa ?
Dalam
rapat itu GM menyatakan keheranannya, kenapa terdapat selisih harga
yang relatif besar antara yang tercantum dalam 'Surat Perjanjian Kerja'
dengan yang dibayarkan kepada pekerja.
"Kalau harga bisa kita
turunkan lagi, why not ? Keuntungan kontraktor cukup 30% saja", demikian
kata GM. Namun ada asisten lapangan yang tidak sependapat, dan ngomong
menggebu-gebu, "Berapa harga yang diberikan kontraktor kepada
pekerjanya, adalah urusan mereka. Kita tidak perlu tahu !"
Pak GM
menegaskan bahwa kita harus tahu berapa harga yang diberikan kepada
pekerja. Kalau terlalu rendah, ada kemungkinan 'spec' tidak terpenuhi
100%; atau boleh jadi kontraktor ada kolusi dengan petugas kita di
lapangan.
Selanjutnya semua peserta ditanya mengenai harga
borongan yang dijatuhkan kontraktor kepada pekerja. Misalnya tanam
sawit, SPK Rp 120,- (Rp 80,- ke pekerja), tapak kuda SPK Rp 500,- (Rp 300,-), parit
manual SPK Rp 700,- (Rp 400,-), dst, dst.
Pak GM terkejut dan
segera memerintahkan untuk selanjutnya agar dibuat SPK baru dengan harga
di bawah SPK lama. Beberapa hadirin bergumam, namun tidak ada lagi yang
berani ngomong.
Dari hasil investigasi saya selama menjalani
masa training, ternyata para kontraktor di kebun harus memberikan
sejunlah 'upeti' setiap bulan kepada asisten dan juga manager kebun.
(bahkan tak jarang para mandor I dan pengawas lapangan juga 'minta
bagian').
"Itu 'kan hak kamu, kenapa kamu harus setor segala !" ujarku kepada seorang kontraktor.
"Aduh
pak. susah ! Kalau kami ndak kasih setoran, BAP kami dipersulit oleh
mereka; atau kalau kontrak sudah habis, mereka tidak mau lagi
memperpanjang".
"Siapa mereka itu ?" tanyaku.
"Nanti bapak akan tahu sendirilah. Mereka itu bisa mandor I, bisa asisten dan juga manager" ujar sang kontraktor.
Pernah
juga saya mewawancari mandor I mengenai hal ini. "Aku disuruh hitung
realisasi tapak kuda (terras indivdu). Setelah kuhitung dan kulaporkan
kepada asisten, malah disuruh tambah junmlahnya pak", ujar si-mandor I.
"Lho, kamu koq mau saja ?" selidikku.
"Gimanalah pak. Dia itu atasan saya, saya nggak berani menolak", jelas mandor I.
"Siapa itu orangnya ?" tanyaku bersemangat.
"Pak....Anu....malah sekarang dia udah naik jabatan menjadi estate manager", jelas sang mandor I itu.
"Apakah begitu semua asisten dan manager di sini ?" tanyaku lagi.
"Aku
nggak bisa pastikan begitu semua pak. Tapi setahuku banyak yang begitu
pak...." Ucapan itu masih terngiang di telingaku hingga hari ini.
Aku
tidak ingin menuduh atau menyimpulkan bahwa semua staff kebun terlibat
kolusi dengan kontraktor atau 'mark up' hasil kerja; namun dalam
perjalanan karirku di dunia perkebunan dalam kurun waktu 20 tahun
kemudian, banyak terungkap kasus-kasus kolusi, manipulasi dan mark up
hasil kerja di perkebunan. Beberapa kasus ada yang diusut sampai ke
pihak berwajib, sebagian ada yang berakhir dengan PHK, namun tidak
sedikit pula para 'terdakwa' yang lari malam, alias 'muntaber' (mundur
tanpa berita).
Terkadang saya malu juga mengkritik banyaknya
pejabat pemerintah yang 'KKN', padahal di swasta sendiri pun tidak
sedikit 'pejabat' yang 'main mata' dengan kontraktor ataupun supplier.
Bukan
bermaksud menyombongkan diri, saya masih bisa menyambung hidup tanpa
seperak pun uang haram dari kontraktor atau pihak mana pun. Banyak anak
buah saya yang ter-PHK gara2 terlibat kongkalongkong dengan kontraktor,
sejauh ada saksi dan barang bukti saya proses sesuai hukum yang berlaku.
Ada yang dendam dan ada yang mengancam. Saya hadapi sebagai suatu
risiko hidup jujur.
Ada kawan yang bilang saya ini bodoh, karena
hidup cuma mengandalkan gaji doang. Saya hargai penilaian mereka. Saya
nggak berkecil hati dibilang bodoh lantaran mempertahankan prinsip
kejujuran dan amanah. Amanah ? Ya ! Amanah. Karena saya digaji, saya
diberi amanah mengelola aset perusahaan dan para karyawan. Saya tidak
punya hak mengambil keuntungan dari kontaktor, saya tidak punya hak
membuat laporan fiktif atau mark up hasil kerja.
Alhamdulillah
dengan bekerja apa adanya, tidak mengada-ada dan sesuai keadaan, saya
masih bertahan kerja di kebun hingga saat ini.
Alhamdulillah anak
saya sudah kuliah dan kelas 2 SMA. Mereka pergi menuntut ilmu pakai
sepeda motor. Tidak seperti bapaknya yang kuliah naik bemo di Bogor
dulu. Dari gaji dan bonus yang saya terima, 17 tahun kemudian saya bisa
beli rumah type 45, dan 20 tahun kemudian saya dan istri diizinkan-Nya
pergi menunaikan ibadah haji ke baitullaah.
Saya ingin membuktikan kepada generasi muda bahwa tanpa kolusi, tanpa uang komisi, tanpa maling, saya bisa hidup sejahtera.
Saya ingin membuktikan bahwa dengan kerja jujur saya tidak terbujur. Dengan kerja 'lurus', saya tidak 'kurus'
Janganlah
kita meracuni generasi muda dengan ajaran-ajaran "jalan pintas" yang
menghalalkan segala cara untuk mencapai karir dan harta.
Generasi
muda harus diyakinkan bahwa apabiila mereka bersungguh-sungguh dengan
kerja keras, kerja cerdas, kerja jujur, dan kerja amanah, insya Allah
karir dan harta akan datang dengan sendirinya. Setidaknya saya telah
membuktikan hal itu. Alhamdulillaah..
Ya Allah, terharu saya baca Tulisan bapak. Sangat Inspiratif dan menyentuh. Semoga Hidup bapak yang sangat amanah bisa penuh berkah.
BalasHapussalam hormat saya, husni
ini kisah nyata saya . . . .
BalasHapusperkenalkan nama saya YUNI SARA, saya berasal dari kota Bandung saya bekerja sebagai seorang karyawan di salah satu perusaan Yogyakarta.dimana saya sudah hampir kurang lebih tiga tahun lamanya saya bekerja di perusaan itu.
Keinginan saya dan impian saya yang paling tinggi adalah ingin mempunyai usaha atau toko sendiri,namun jika hanya mengandalkan gaji yah mungkin butuh waktu yang sangat lama dimana belum biaya kontrakan dan utan yang menumpuk justru akan semakin sulit dan semakin lama impian itu tidak akan terwujud
saya coba" buka internet dan saya lihat postingan orang yg sukses di bantu oleh seorang kyai dari sana saya coba menghubungi beliau, awalnya saya sms terus saya di suruh telpon balik disitulah awal kesuksesan saya.jika anda ingin mendapat jalan yang mudah untuk SOLUSI MUDAH, CEPAT LUNASI UTANG ANDA, DAN MASALAH EKONOMI YG LAIN, TANPA PERLU RITUAL, PUASA DLL. lewat sebuah bantuan penarikan dana ghoib oleh seorang kyai pimpinan pondok pesantren sundoko.dan akhirnya saya pun mencoba menghubungi beliyau dengan maksut yang sama untuk impian saya dan membayar hutang hutang saya.puji syukur kepada tuhan yang maha esa melalui bantuan beliau.kini sy buka usaha distro di bandung.
Sekali lagi Saya mau mengucapkan banyak terimah kasih kepada kiyai sundoko atas bantuannya untuk mencapai impian saya sekarang ini. Untuk penjelsan lebis jelasnya silahkan >>>>>>>>SOLUSI MELUNASI HTANG KLIK DISINI<<<<<<<<<
Anda tak perlu ragu atau tertipu dan dikejar hutang lagi, Kini saya berbagi pengalaman sudah saya rasakan dan buktikan. Semoga bermanfaat. Amin
Semangat terus pak
BalasHapus