Kamis, 26 Desember 2013

MERANTAU KE DELI, oleh Buya HAMKA (Bagian 6 : PULANG)

Sudah lama Leman merantau, sudah bertahun hari yang habis. Dahulu ketika pertama kali membentang tikar, ketika akan mengajak bekerja mencari penghidupan, belumlah olehnya teringat untuk pulang. Bagaimana akan pulang, padahal hidup masih serba kurang. Pada ketika itu orang kampung sendiri pun tidak berapa ingat akan dia. Tetapi sekarang, penghidupan naik, sejak membuka kedai, maka tiap-tiap orang yang baru kembali dari kampong membawa pesan juga,meminta supaya Leman pulang, agak sebentarpun cukuplah. Karena seruan kampung halaman, seruan pancuran tempat mandi lebih keras rasanya, maka terbayang-bayanglah dimatanya negeri yang telah lama ditinggalkan itu, teringat masa badan lagi kecil.

Sudah lama hal itu terpendam di dalam hati kecilnya. Maka pada suatu haridikabarkannyalah kepada istrinya tentang niat hendak pulang itu. Dan sudah kepingin hendak bertemu dengan kaum kerabat, sudah terbayang-bayang di matanya halaman rumah family.

Mendengar itu Poniem menegurkan kepala, sehabis suaminya bercakap baru dia menengadah, seraya berkata : “kalau abang seingin itu benar hendak pulang, tidakkah teringat dihati abang hendak membawa saya ?”

“Akan sukakah engkau melihat kampung halaman dan dusun kami yang sunyi, Poniem ?”

“Bukan sunyi atau ramai kampung yang penting bagiku, abang”, jawab Poniem.

“Yang penting bagiku ialah hendak mengenal kaum famili pula, hendak memperhubungkan kasih sayang dengan mereka sekalian. Yang saya kenal selama ini hanyalah pihak laki-laki, kemenakan saudara kita yang dating dari kampung. Adapun yang perempuan, yang sama-sama tinggal di kampung belum lagi ku ketahui. Sudah sekian lama kita bergaul, bukankah sudah patut saya berziarah dan berkenalan dengan mereka ?”

“Saya takut, kalau-kalau ongkos terlalu besar,” jawab Leman pula dengan sungguh-sungguh, karena dia maklum sudah, bagaimana beratnya ongkos kalau pulang bersama-sama.

“Beratnya ongkos tidak perlu kita ingat. Di dalam menghubungkan kasih sayang, menemui family dan kaum kerabat tidaklah boleh kita menghitung ongkos. Sekian lamanya kita bekerja siang dan malam, tidak bertuhur kain mengumpulkanuang, sudah patut sekali-sekali kita ambil sebagaian kecil untuk melunasi hutang kita, yaitu hutang yang tiada dapat dilunasi dengan harta.”

Mendengar jawab istrinya itu, Leman merasa menyesal, mengapa tidak dari dia timbul ajakan pulang itu. Alangkah kurang penghargaannya terhadap istrinya dan alangkah jujur hati istrinya terhadap padanya dan kepada kaum kerabatnya.

Maka ditentukanlah hari akan berangkat, habis gajian tiga puluh. Setelah lepas gajian, berapa uang yang didapat telah ditahan, tidak dibelikan kepada barang baru lagi. Kepada induk semang di Medan telah dikatakan terus terang bahwa pada pangkal bulan yang sekali ini mereka tidak akan setor. Induk semang pun tiada merasa keberatan, lantaran bagusnya perhubungan selama ini. Poniem sejak waktu itu telah bekerja keras menyediakan buah tangan dan tandamata yang akan diberikan kepada family di kampung, sehelai baju untuk uncu, sehelai sarung untuk kakak, selendang untuk adik dan beberapa persalinan pakaian untuk yang kecil-kecil. Leman tercengang dan merasa kagum melihat perbuatan istrinya.
Pada hari yang telah ditentukan, yaitu tanggal tiga menurut hitungan bulan Masehi, berangkatlah meraka pulang. Dua hari dua malam lamanya dijalan, melalui Tarutung dan Sibolga. Kedai diserahkan penjaganya kepada Suyono. Piutang yang kecil-kecil disuruh pungutkan kepadanya.

Ketika kedengaran bunyi deru oto yang berhenti dihalaman maka gadis-gadis dan perempuan-perempuan muda yang sedang masak di dapur atau sedang menjaga padi yang sedang terjemur dihalaman, supaya jangan dimakan ayam, demikian juga perempuan-perempuan tua yang sedang menumbuk di lesung, berlari-larilah semuanya ke jalan raya. Orang laki-laki yang sedang pergi ke surau hendak sembahyang, tertegun langkahnya dan tercengang melihat oto yang berhenti itu,melihat dagang baru pulang yang sedang duduk didalamnya. Peti bersusun di belakang oto itu, muatan yang lain sarat pula.

Baru saja oto berhenti, turunlah Leman. Lagaknya lagak Deli betul-betul,memakai baju teluk belanga, sama corak bajunya dengan celana, bersamping kain sarung halus, berpeci beludu tinggi dan berselop capal. Kumisnya dipotong pendek,ketika ia tersenyum kelihatanlah giginya yang berpalut emas.

Perempuan-perempuan kaum kerabatnya itupun datanglah tergopoh-gopohsedekat oto berhenti, sambil serentak keluar dari mulut masing-masing mereka.“Abang Leman”

Leman sendiripun menolehlah kedalam oto, sambil menunjuk. “Kakak kalian”

“Oh, ini kah kakak kami..? inikah mbak Ayu Poniem ? Oh, mengapa kakak diamsaja dari tadi ? marilah turun, marilah kita naik kerumah, disinilah kampung buruk awak,” kata seorang perempuan muda yang sangat bijak mulutnya, lalu disambutnya tangan Poniem di bawahnya turun dari oto dan naik ke rumah.

Bertambah lama halaman itu bertambah ramai. Perempuan-perempuan tua datang mendekati Leman, menciumi sekujur badannya, ada yang menangis. “Sudah lama kampung engkau tinggalkan, masih hidup saya engkau dapati, telah besar badan kau kiranya”.

Leman tersenyum-senyum simpul saja, dia merasa amat bangga, ada rupanya dia berfamili, ada rupanya dia berkaum kerabat. Poniem telah dibimbing oleh perempuan-perempuan muda itu naik kerumah. Mereka tercengang-cengang dan kagummelihat baju sutranya, sarung Jawa halusnya, peniti paun yang berderet dibadannya, gelang kakinya, yang semuanya sudah seperti dahulu, karena sudah dibeli gantinya. Mereka tercengang dan kagum melihat perempuan yang telahberuntung mencuri hati saudara mereka, sehingga sudah bertahun-tahun lupa kampung dan halaman.

Lalu Leman menolong sopir itu membongkari barang. Tetapi sebelum diabekerja, sudah datang saja anak-anak muda, familinya juga, menyuruhnya sajanaik kerumah, biarkan mereka yang mengurus barang-barang itu. Dengan senyum dibayarnya ongkos oto, dipersilahkannya sopir itu naik kerumah dahulu, sopir itumenolaknya, karena demikian adat. Diapun naik, dan perempuan-perempuan puntelah banyak yang duduk mengelilingi Poniem dan menunjukkan muka yang suci,hati yang jernih. Yang muda-muda yang pandai berbahasa Melayu mencoba-cobaberkata-kata dalam bahasa Melayu, karena sudah pernah juga merantau ke Deli.Tetapi perempuan-perempuan yang agak tua hanya dapat berbicara dengan memakai bahasa yang di pakai di kampung; “Lai selamat-selamat sajo di jalan?” Tanya salah seorang dari mereka kepada Poniem !

“Lai,” jawab Poniem dengan senyumnya. Perempuan-perempuan muda tertawalah dengan riuhnya, karena “Lai” yang di ucapkannya itu masih kaku. Tetapi mereka sudah merasa senang, walaupun bergaul baru sepuluh menit, karena ramah tamahdan baik budi Poniem itu. Dan perempuan tua itupun menjadi tertawaan yang muda-muda.

Seorang perempuan tua bertanya pula. “Si Rapiah Lai ba suo di Labung?”

Pertanyaan inipun menimbulkan tertawa anak-anak muda pula, sebab diamenanyakan cucunya yang merantau ke Lebong (Bengkulu), padahal Poniem dariDeli.

Bagi orang kampung, asal saja sudah merantau lepas dari Bukittinggi,tidaklah mereka tahu lagi apakah oto yang membawa anak cucunya untuk berangkat menuju Lubuk Sikaping akan ke Deli, atau menuju Padang akan berlayar ke Bengkulu.

Bukan main riuh rendahnya hari sehari itu, sampai semalam malaman. Poniem sangat merasa beruntung dan bertambah hormatnya terhadap suaminya, sebab diketahuinya bahwa suaminya itu tidaklah orang terbuang, melainkan rimbun rampak dalam kaumnya, ada beradik berkakak, meskipun ibunya yang kandung sudah tak ada lagi. Leman sendiri, yang tadinya menyangka kalau-kalau istrinya akan terkunci saja mulutnya bergaul dengan perempuan-perempuan kampung, sekarang sudah dapat memperhatikan, rupanya dia dapat duduk ketengah ketepi dan dapat membawakan diri dimana-mana. Dalam sebentar waktu saja, seluruh kampung itu telah memuji kebaikan perangai dan keelokan pergaulan Poniem. Di tepian tempat mandi pun telah tersebbut pula, telah menjadibuah mulut dalam kalangan perempuan-perempuan muda, bahwa istri Leman adalah seorang yang baik budi.

“Memang amat baik budinya dan pandai bergaul, tahu dia seluk beluk adat kita,” ujar seorang perempuan muda. !

“Sudah lama dia bergaul dengan orang awak, tentu tahudia rasambesi orang awak”, jawab seorang perempuan tua yang sedang menyaukkan periannya.

“Orang kita sendiri tidaklah akan serendah hati itu. Biasanyaorang kita apabila sudah dibawa oleh suaminya merantau, lalu pulang ke kampuang, subangnya bertahta intan, dia telah sombong. Bertegur sapa dengan kita diamerasa keberatan, kita disangkanya sarap dan kotoran saja. Tetapi mbak AyuPoniem itu bukan begitu, harta bendanya seakan-akan tidak diacuhkannya, mulutnya manis, tegur sapanya terpuji.”

“Cuma satu saja salahnya,” ujar perempuan tua itu, yangperiannya sudah hampir penuh.

“Apa ?” tanya perempuan muda itu.

“Dia bukan orang kita,” ujar perempuan tua itu.

“Iya, itu sajalah salahnya, itu saja yang rasa keberatan. Meskipun budinya baik, kelakuannya terpuji, sayang dia tidak orangkita. Bagaimanapun kekayaan yang didapat Leman, tentu setinggi-tinggi melambung akan kembali ke tanah jua, kemana kekayaan yang sebanyak itu akan dibawa.”

Seorang perempuan lain yang sedang menggosok-gosokpunggungnya dengan sabun pencuci kain menjawab pula.

“Tetapi kan dia tidak beranak. Sebab itu tidaklah berapa susah.”

Itulah yang mereka pikirkan, betul Poniem baik budi,perangainya disetujui orang kampung, pergaulannya tiada cacatnya, Cuma sayangdia bukan orang “Awak”. Dan mereka merasa syukur juga, sebab Leman tidak beranak dengan dia.

Itulah perasaan umum di dalam kampung, mereka puji Poniem dan mereka sanjung, tidak ada perangainya yang patut dicela, tetapi mereka belum puas, dia tidak “orang awak”.
Sedianya akan lama mereka akan tinggal di kampung,mencapai sebulan atau dua bulan. Tetapi lima belas hari, mereka telah merasabosan, telah merasa sebagai tertijak di bara panas, baik Leman apalagi Poniem. Apakah sebabnya ?

Mereka dua laki istri, sudah
lebih setengah bulan tinggal di kampung, tetapi tidak leluasa didalam pergaulan. Rumah kerabatLeman, tidak di diami oleh kerabat-kerabatnya yang perempuan, mereka hidup dengan suami masing-masing di dalam bilik masing-masing. Rumah-rumah di Minangkabau tidak tersedia untuk saudara laki-laki yang hendak membawa istrinya tinggal disana. Dimana Poniem hendak diletakkannya ?.

Kalau Poniem orang Minangkabau, tentu dia naik ke atas rumahnya sendiri. Sekarang Poniem bukan orang Minangkabau, kaum kerabat tepatnya tidak ada, tentu dia dibawa ke rumah kaum kerabat Leman. Padahal rumah itu telah terbagi untuk saudara-saudara dan kemenakan-kemenakan yang perempuan dengan suaminya masing-masing. Tidak adat dan bukan lembaga, seorang laki-laki membawa istrinya ke rumah saudara perempuannya.

Dahulu, ketika akan pulang kampung tidaklah terpikir olehnya hal ini, sebab hatinya gembira hendak pulang saja.

Tetapi sekarang,kian lama kian rumit dan susah. Hal ini terasa olehnya dan oleh istrinya sendiripun kelihatan terasa pula. Hatinya sudah mulai kesal saja, tetapi sukar sekali mereka akan bertemu. Sebelum cukup dua puluh hari, sedang perempuan-perempuan lain pergi mandi ke pancuran, Poneim telah menghampiri suaminya.

“Bilakah kita akan kembali ke Medan ?” Leman menjawab “Abang pun sudah merasa lebih baik kita segera kembali ke Medan.” Maka tentukanlah hariuntuk berangkat.

Pada suatu malam sebelum meraka berangkat, terlambatbenar Leman pulang dari surau, biasanya pukul sembilan dia sudah pulang,sekarang sudah lewat. Saudara-saudaranya yang perempuan menanyakannya kepadaanak-anak yang telah kembali dari surau, kenapa Leman terlambat, merekamenjawab bahwa engku Sutan Panduko mengajaknya berbicara berdua saja,sangat lama mereka berbicara. Pukul sebelas malam barulah dia pulang. Tidak adayang tahu apakah isi pembicaraan mereka itu. Esok paginya dia pun berangkat kembali ke Medan. Ramai pula perempuan-perempuan muda yang mengantarkannya keoto, lebih-lebih yang telah menjadi sahabat Poniem. Sedih juga hati Poniem akan meninggalkan sahabat-sahabat itu, sayang dia tidak dapat tinggal lama di kampung. Orang-orang yang mengantarkan itu ada yang memberi ampiang, kue bika, galamai Payakumbuh dan lain-lain makanan cara Minangkabau.

Leman, sejak dia disambut beramai-ramai, dan dilepas beramai-ramai pula, terasalah olehnya kembali bagaimana eratnya pertalian famili. Meskipun bagaimana dia terpisah selama ini, jauh terbuang kemanapun dia, walau bagaimana senangnya, hidup dirantau, namun dia tetap anak Minangkabau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Semangat pagi !